Hari ini
Cuaca 0oC
Karawang Terkini

7 Laga Piala Dunia 2026 Diduga Terkait Pengaturan Skor

Denmark; Pertandingan Spanyol melawan Arab Saudi pada penyisihan grup juga masuk dalam daftar perhatian dari Copenhagen Group. 

7 Laga Piala Dunia 2026 Diduga Terkait Pengaturan Skor
7 Laga Piala Dunia 2026 Diduga Terkait Pengaturan Skor

Temuan terbaru dari jaringan pemantau internasional Copenhagen Group memunculkan dugaan adanya tujuh pertandingan di Piala Dunia 2026 yang berpotensi terkait dengan manipulasi hasil pertandingan melalui aktivitas taruhan mencurigakan. 

Laporan tersebut bertolak belakang dengan pernyataan FIFA yang sehari sebelumnya menyatakan tidak menemukan indikasi pengaturan pertandingan sepanjang turnamen.

Copenhagen Group, jaringan independen internasional yang bertugas memantau dan memerangi manipulasi dalam kompetisi olahraga, mengeluarkan tujuh "yellow alert" setelah mengawasi 104 pertandingan selama Piala Dunia 2026.

Hingga kini, laporan lengkap belum dipublikasikan. Namun, Dewan Eropa telah merilis ringkasan temuan tersebut. 

Mengutip laporan The Athletic, Sabtu (25/7/2026), terdapat beberapa insiden yang paling mencuri perhatian selama turnamen.

Kasus pertama adalah kartu merah yang diterima gelandang Afrika Selatan, Themba Zwane, pada menit ke-84 saat menghadapi Meksiko di laga pembuka negaranya.

Kasus kedua berkaitan dengan pertandingan Spanyol melawan Tanjung Hijau (Cape Verde) yang berakhir imbang tanpa gol di fase grup. 

Dalam laga tersebut, platform prediksi berbasis mata uang kripto asal Amerika Serikat, Polymarket, mencatat nilai taruhan mencapai 4,8 juta dolar AS (Rp86 miliar) untuk skenario Spanyol gagal meraih kemenangan.

Sementara itu, pertandingan Spanyol melawan Arab Saudi juga masuk dalam daftar perhatian. Sorotan tertuju pada penundaan selama sekitar tiga setengah menit oleh Video Assistant Referee (VAR) sebelum akhirnya menganulir gol Ferran Torres dalam kemenangan 4-0 Spanyol.

Kasus Folarin Balogun

Laporan itu juga menyoroti kasus penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Pada 2 Juli 2026, hari ketika Balogun mendapat kartu merah saat menghadapi Bosnia-Herzegovina di babak 32 besar, Polymarket membuka pasar taruhan dengan pertanyaan, "Apakah Balogun akan bermain melawan Belgia?"

Padahal, Komite Disiplin FIFA baru memastikan kemungkinan Balogun dapat tampil setelah hukumannya ditangguhkan pada 5 Juli 2026. Menurut Copenhagen Group, tidak ada pasar taruhan serupa yang dibuka untuk 14 pemain lain yang juga menerima kartu merah selama turnamen, dan tidak satu pun dari mereka memperoleh penangguhan hukuman.

Beroperasi di bawah Konvensi Macolin milik Dewan Eropa mengenai pencegahan manipulasi hasil pertandingan, Copenhagen Group menyatakan telah mengirim permintaan resmi kepada FIFA untuk memberikan penjelasan tertulis mengenai kasus Balogun. Hingga laporan tersebut diterbitkan, The Athletic menyebut FIFA maupun Polymarket belum memberikan tanggapan.

Temuan Copenhagen Group mengejutkan karena muncul hanya sehari setelah Satuan Tugas Integritas FIFA mengumumkan bahwa mereka "tidak menemukan aktivitas taruhan mencurigakan maupun indikator manipulasi dalam pertandingan mana pun selama turnamen."

Ironisnya, Copenhagen Group dan Dewan Eropa sendiri merupakan anggota independen dalam satuan tugas integritas FIFA yang dibentuk sejak 2019.

Berbeda dengan pernyataan FIFA, Copenhagen Group mengungkapkan telah mendeteksi tujuh "yellow alert". Dalam sistem pemantauan mereka, status tersebut diberikan ketika terdapat "beberapa indikator ketidakwajaran", seperti perubahan odds taruhan yang tidak dapat dijelaskan atau munculnya rumor di media sosial.

Sistem peringatan Copenhagen Group terdiri atas empat tingkatan, yaitu hijau (normal), kuning (peringatan rendah), oranye (peringatan tinggi), dan merah (risiko tertinggi).

Soal Peringatan Kuning

Pakar industri taruhan yang pernah bekerja sama dengan Copenhagen Group, Christian Kalb, menegaskan bahwa munculnya peringatan kuning belum bisa dijadikan bukti adanya pengaturan pertandingan.

Peringatan ini dapat dijelaskan oleh perilaku yang tidak biasa, seperti perubahan odds atau lindung nilai (hedging) terhadap likuiditas. "Volume taruhan di Piala Dunia sangat besar, dan setiap pertandingan melibatkan miliaran pound sterling, sehingga sangat sulit menarik kesimpulan yang pasti," ujar Kalb kepada The Athletic.

Ia menambahkan, "Masalah utama terletak pada potensi konflik kepentingan dan informasi orang dalam. Bandar taruhan tradisional dapat menggunakan pasar prediksi seperti Polymarket untuk melakukan lindung nilai ketika mayoritas orang bertaruh pada tim unggulan, sehingga hasil ketika tim favorit gagal menang dijadikan semacam perlindungan guna mengurangi kerugian."

Menurut laporan tersebut, Copenhagen Group memberikan pemantauan khusus terhadap 15 pertandingan, terutama pada laga terakhir fase grup, serta melakukan analisis terhadap 12 insiden kontroversial sepanjang turnamen.

Kelompok itu juga memperkirakan total nilai taruhan selama Piala Dunia 2026 mencapai sekitar 240 miliar dolar AS, atau hampir dua kali lipat dibandingkan volume taruhan pada Piala Dunia 2022 di Qatar. 

Meski Copenhagen Group menyebut terdapat tujuh pertandingan yang masuk kategori yellow alert, hingga kini identitas seluruh pertandingan tersebut belum dipublikasikan. 

Ringkasan laporan yang dirilis Dewan Eropa dan dikutip The Athletic hanya mengungkap beberapa kasus yang dinilai paling menonjol, sementara tiga pertandingan lainnya belum disebutkan secara terbuka.(*)

Hide Ads Show Ads