Peserta Tur asal Madiun Diduga Kabur di Korsel, Travel Buka Sayembara
Karawang : Seorang peserta tur asal Madiun, Femas Yani Arianto diduga meninggalkan rombongan wisata saat berada di Korea Selatan. Kejadian tersebut membuat agen perjalanan membuka sayembara untuk membantu menemukan keberadaannya.
Pihak travel mengumumkan sayembara melalui akun Instagram @sarjanabackpacker yang kemudian ramai diperbincangkan publik. Sayembara tersebut ditujukan bagi WNI yang berada di Korea Selatan dan mengetahui keberadaan Femas.
Unggahan itu meminta masyarakat segera melaporkan informasi mengenai Femas kepada petugas terkait apabila menemukannya. Pihak travel juga mengingatkan agar warga tidak mengajak Femas melakukan aktivitas lain sebelum proses pelaporan dilakukan.
"Kalau ada WNI di Korea ketemu Femas, jangan diajak ngopi, jangan diajak healing dulu. Langsung lapor ke petugas," tulis akun @sarjanabackpacker, dalam unggahannya, Sabtu, 18 Juli 2026.
Unggahan itu juga menjanjikan hadiah bagi pihak yang berhasil membantu memulangkan Femas ke Indonesia. Adapun hadiahnya paket liburan ke negeri Jiran.
"Kalau aksi kalian membuat Femas pulang ke Indonesia, kami akan berikan tanda terima kasih. Yakni dengan mengajak 1 keluarga kamu untuk liburan ke Singapore dan Malaysia 4 hari 3 malam GRATIS," tulisnya, menambahkan.
Marketing Manager Berani Backpacker, Wiky membenarkan adanya sayembara yang dibuat pihak travel melalui media sosial. Ia menjelaskan langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mencari solusi setelah berbagai pendekatan sebelumnya dilakukan.
Ia mengatakan visa Femas telah memasuki status overstay sejak 12 Juli 2026 setelah yang bersangkutan tidak kembali bersama rombongan. Sebelum status tersebut terjadi, pihak travel mengaku telah melakukan komunikasi dengan keluarga agar Femas bersedia pulang.
"Itu kenapa sebelum 12 Juli kemarin kita benar-benar coba untuk pendekatan secara soft. Kita coba datang ke keluarga, follow up terus ke ibunya," ujarnya dalam keterangan resmi ,Sabtu, 18 Juli 2026.
Menurutnya, tindakan tersebut tidak hanya merugikan pihak agen perjalanan, tetapi juga berpotensi memengaruhi peserta lain dalam rombongan. Kondisi itu dikhawatirkan dapat berdampak pada proses pengajuan visa Korea Selatan bagi peserta lainnya.
Ia menjelaskan keberadaan Femas dalam satu grup perjalanan dapat menjadi pertimbangan tambahan bagi pihak terkait ketika memproses pengajuan visa berikutnya. Karena itu, pihak travel berharap masalah tersebut segera selesai tanpa menimbulkan dampak lebih besar.
"Karena ini merugikannya enggak hanya ke kita, tapi merugikan banyak orang. Visa orang-orang lain satu grup itu pasti terkendala," ujarnya.
Pihak Berani Backpacker terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mencari keberadaan Femas di Korea Selatan. Mereka berharap bantuan masyarakat dapat mempercepat penyelesaian kasus tersebut dan menjaga kepercayaan perjalanan wisata Indonesia.(*)
