Presiden Prabowo: Tidak Boleh Ada Anak Indonesia ke Sekolah Dalam Keadaan Lapar
Tangerang: Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperjuangkan kesejahteraan seluruh anak bangsa, terutama mereka yang tinggal di wilayah terpencil.
Hal ini disampaikan dalam sambutannya saat membuka kegiatan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) Otonomi Expo 2025 yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Kabupaten Tangerang, Kamis (28/8).
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo mengungkapkan tantangan yang dihadapi pemerintah dalam menjangkau seluruh desa di Indonesia, terutama yang berada di pulau-pulau terluar. Meski demikian, ia menegaskan bahwa setiap anak Indonesia, di manapun berada, adalah tanggung jawab negara.
“Tidak ada alasan. Mereka adalah anak-anak Indonesia. Mereka akan kita urus, kita bela, kita beri makanan. Karena mereka anak Indonesia dimanapun mereka berada. Republik Indonesia benar-benar merdeka kalau kita merdeka dari kelaparan,” tegas Presiden Prabowo.
Presiden menekankan bahwa tidak boleh ada anak Indonesia yang pergi ke sekolah tanpa mendapatkan makanan yang layak. Ia mengakui, saat ini pemerintah baru mampu menyediakan satu kali makan bagi peserta didik, namun pencapaian tersebut merupakan sebuah kemajuan besar dalam upaya memerangi kelaparan dan meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
“Kemampuan kita baru seperti ini. Kita baru bisa beri makan satu kali. Tapi itu sudah prestasi luar biasa bagi Republik kita,” ungkapnya.
Presiden juga menyoroti pentingnya efisiensi dalam tata kelola pemerintahan sebagai kunci keberhasilan berbagai program nasional. Ia mengajak para kepala daerah untuk berpegang teguh pada *Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945* dalam setiap kebijakan pembangunan daerah.
"Saya harus ingatkan, Pasal 33 ini pegangan untuk para Bupati. Jangan terlalu mudah memberi izin dan rekomendasi. Ingat anak cucumu,” ujar Presiden Prabowo.
Lebih lanjut, Presiden menekankan prinsip *kekeluargaan* sebagai dasar pembangunan ekonomi nasional. Menurutnya, kekuatan ekonomi bangsa terletak pada kolaborasi dan keberpihakan pada kelompok masyarakat yang lemah.
“Yang kuat silakan, yang menengah ayo, yang lemah kita bantu, yang sangat lemah harus kita angkat. Itu keluarga. Kita itu anak-anak kita semuanya, warga negara Republik Indonesia,” pungkasnya.(*)