Gempa NTT, Wamenkes: Korban Meninggal 51 Orang, 171 Faskes Rusak
Jakarta : Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat bencana yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus bertambah.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun dari lapangan, sedikitnya 51 orang meninggal dunia. Selain itu, 36 orang mengalami luka berat dan 77 lainnya luka ringan.
Benjamin menyebut angka tersebut masih dapat berubah seiring proses pendataan dan penanganan korban di lapangan.
"Sampai dengan saat ini, data yang kami kumpulkan di lapangan, angka kematian bertambah. Dari Manggarai Timur sebelumnya 17 menjadi 19, kemudian Manggarai dari 1 menjadi 4. Ketika kami kumpulkan di Kementerian Kesehatan, totalnya menjadi 51 orang meninggal," ujar Benjamin dalam Rakor Penanganan Bencana Gempa NTT, Minggu, 16 Agustus 2026.
Menurutnya, kondisi fasilitas kesehatan di Flores juga menjadi perhatian utama pemerintah. Kerusakan fasilitas kesehatan berdampak terhadap kemampuan tenaga medis dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak.
Dari total 21 rumah sakit yang berada di wilayah Flores, sebanyak 16 rumah sakit dilaporkan mengalami kerusakan berat, empat lainnya mengalami kerusakan sebagian, sedangkan satu rumah sakit mengalami kerusakan total.
Empat rumah sakit yang mengalami kerusakan sebagian berada di Ngada dan Nagekeo, sedangkan rumah sakit yang mengalami kerusakan total berada di Manggarai.
Tak hanya rumah sakit, kerusakan juga terjadi pada sejumlah pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Dari total 190 puskesmas di Flores, sebanyak 122 mengalami kerusakan berat, 49 mengalami kerusakan sebagian, dan 19 lainnya belum dapat beroperasi.
Sebanyak 19 puskesmas yang belum beroperasi tersebut tersebar di sejumlah wilayah, yakni tiga di Manggarai Timur, lima di Kabupaten Manggarai, empat di Ngada, tiga di Nagekeo, serta empat di Manggarai Barat.
"Yang terpenting adalah fasilitas kesehatan yang terdampak. Dari 21 rumah sakit yang ada di Flores, 16 dalam kondisi terdampak berat, empat terdampak sebagian, dan satu mengalami kerusakan total," kata Benjamin.
Kemenkes Optimalkan Lima Rumah Sakit
Untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan, Kemenkes akan mengoptimalkan sejumlah rumah sakit yang masih dapat digunakan.
Benjamin menyebut sedikitnya lima rumah sakit menjadi prioritas untuk dimaksimalkan pelayanannya, yakni RSUD Borong, RSUD Ruteng, RSUD Bajawa, RSUD Nagekeo, dan RSUD Ende.
"Kementerian Kesehatan akan mengoptimalkan pelayanan di lima rumah sakit, yaitu RSUD Borong, RSUD Ruteng, RSUD Bajawa, RSUD Nagekeo, dan RSUD Ende," ujarnya.
Selain memperkuat fasilitas kesehatan yang masih berfungsi, Kemenkes juga mengerahkan tenaga medis untuk membantu penanganan korban.
Sejumlah dokter spesialis ortopedi dari Sulawesi Selatan telah berada di Labuan Bajo. Mereka disiapkan untuk bergerak ke wilayah yang membutuhkan pelayanan medis, terutama daerah dengan jumlah korban luka yang cukup banyak.
Benjamin mengatakan kebutuhan tenaga ortopedi cukup mendesak, khususnya di wilayah Manggarai dan Manggarai Timur.
"Teman-teman dokter ortopedi dari Sulawesi Selatan sudah ada di sini. Mereka sudah terbiasa menangani kasus seperti ini dan siap menuju lokasi yang membutuhkan pelayanan," ungkapnya.
Selain itu, tujuh dokter dari rumah sakit di Kupang juga telah tiba di Manggarai untuk membantu pelayanan kesehatan bagi korban.
Kemenkes Kirim Bantuan Medis
Kemenkes juga mengaktifkan tim manajemen krisis kesehatan untuk mempercepat koordinasi penanganan bencana.
Dua tim manajemen krisis kesehatan dikerahkan, masing-masing untuk wilayah yang membutuhkan penanganan langsung. Kemenkes juga memobilisasi tim medis melalui Emergency Operation Center (EOC) yang ditempatkan di sembilan lokasi, yakni satu di tingkat provinsi dan delapan di kabupaten.
Bantuan logistik kesehatan turut dikirim ke wilayah terdampak. Bantuan tersebut antara lain paket obat-obatan dasar, delapan paket emergency kit, lima paket endoskopi, perlengkapan medis, masker bedah, konsentrator oksigen, hingga tenda pos kesehatan.
"Kami melakukan mobilisasi tim manajemen krisis kesehatan dan medical team. Bantuan obat-obatan yang dikirim saat ini berupa paket obat dasar, emergency kit, perlengkapan medis, masker bedah, oxygen concentrator, serta tenda pos kesehatan," tutur Benjamin.
Kemenkes memastikan pemantauan terhadap kondisi korban dan fasilitas kesehatan akan terus dilakukan. Pemerintah juga meminta dukungan agar bantuan medis dan tenaga kesehatan dapat segera menjangkau lokasi-lokasi yang masih membutuhkan pelayanan.
"Yang terpenting, kami membutuhkan dukungan untuk membawa bantuan sampai ke lokasi. Kondisi dan laporan dari pusat krisis kesehatan akan terus kami pantau dan ditindaklanjuti," pungkas Benjamin.
Kemenkes menegaskan penanganan korban dan pemulihan layanan kesehatan menjadi prioritas seiring masih berlangsungnya pendataan dampak bencana di sejumlah wilayah Flores.(*)
