Rosan Sebut Proyek Hilirisasi Senilai USD 26 Miliar Berjalan, Serap 600 Ribu Tenaga Kerja
Jakarta: Pemerintah mulai mengakselerasi agenda hilirisasi nasional dengan menjalankan tujuh proyek strategis dari total 20 program hilirisasi yang telah disiapkan. Proyek-proyek tersebut menjadi bagian dari investasi hilirisasi senilai USD 26 miliar yang ditargetkan mampu menciptakan sekitar 600.000 lapangan kerja baru di berbagai daerah.
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani menyampaikan, proyek awal itu mencakup sektor mineral, energi terbarukan, hingga agroindustri.
Salah satunya adalah pembangunan smelter alumina menjadi aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, yang akan memperkuat rantai industri bauksit nasional. Hal tersebut disampaikan Rosan dalam acara Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026.
"Dari total 20 proyek hilirisasi ini, enam hingga tujuh sudah mulai berjalan sejak minggu lalu. Ini menandai dimulainya fase penting industrialisasi berbasis sumber daya dalam negeri," ujar Rosan, Jumat, 13 Februari 2026.
Selain smelter aluminium, proyek yang mulai dikerjakan juga meliputi pengolahan bauksit menjadi smelter grade alumina, pembangunan bio-avtur di Cilacap, bio-etanol di Banyuwangi, pengolahan garam, biodiesel terintegrasi, hingga hilirisasi kelapa terintegrasi.
Lebih lanjut, Rosan menegaskan bahwa proyek-proyek tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi, tetapi juga memperbesar nilai tambah ekonomi nasional. Dengan mengolah komoditas di dalam negeri, Indonesia dapat menangkap manfaat ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar mengekspor bahan mentah.
"Melalui hilirisasi, kita ingin menangkap seluruh value added yang ada di Indonesia, sekaligus mengoptimalkan produktivitas dan efisiensi industri," jelasnya.
Kemudian ia menambahkan, seluruh proyek hilirisasi dijalankan dengan prinsip good governance, transparansi, dan akuntabilitas, agar manfaat investasi benar-benar dirasakan masyarakat luas dan berkelanjutan.
Pemerintah menempatkan hilirisasi sebagai tulang punggung transformasi ekonomi nasional menuju pertumbuhan tinggi dan berkelanjutan, sejalan dengan target menjadikan Indonesia sebagai negara industri berbasis sumber daya alam bernilai tambah tinggi pada akhir dekade ini.(*)
