Ramadan 2026: Harmoni Ramadan dan Imlek di Najiaying
Yunnan :Muslim di China Rayakan Tradisi Iman dalam Kehangatan Reuni Keluarga
Suara tabuhan drum tradisional menggema di cakrawala kota Nagu, Provinsi Yunnan, memecah kesunyian senja sekaligus menandai transisi spiritual bagi komunitas Muslim di wilayah selatan China.
Tahun ini, bulan suci Ramadan menghadirkan nuansa yang berbeda, bersanding erat dengan kemeriahan perayaan Tahun Baru Imlek.
Fenomena langka ini menciptakan momentum "reuni akbar" bagi sekitar 25 juta warga Muslim dari etnis Hui dan Uyghur.
Kebijakan libur panjang Imlek dimanfaatkan oleh banyak keluarga untuk menunaikan tradisi mudik, menyatukan ritus keagamaan dengan penghormatan terhadap leluhur di kampung halaman.
Akulturasi Budaya di Meja Makan
Di Najiaying, sebuah kota dengan populasi sekitar 8.000 jiwa, geliat Ramadan terasa begitu kolektif.
Lonceng masjid tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu, tetapi juga menjadi komando sosial yang menyatukan ribuan orang dalam satu frekuensi ibadah.
Ma Erzhao Yusuf, seorang pengusaha sosial setempat, menjelaskan bahwa irisan waktu antara Ramadan dan Imlek tahun ini memberikan dimensi kehangatan yang lebih dalam bagi masyarakat.
"Tahun ini terasa berbeda. Banyak umat Muslim yang dapat menjalankan ibadah sekaligus berbuka puasa langsung bersama keluarga besar mereka karena sedang dalam masa libur panjang," ujar Yusuf sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Anadolu.
Pusat keramaian beralih ke Bazar Ramadan, sebuah pasar musiman yang bertransformasi menjadi festival lintas budaya.
Di sini, interaksi sosial tidak terbatas pada komunitas Muslim saja. Warga non-Muslim turut memadati area untuk menikmati ragam kuliner khas, mulai dari mi sapi Yunnan hingga minuman populer seperti milk tea yang menjadi primadona pengunjung.
Identitas Lokal dalam Sajian Spiritual
Lanskap kuliner Ramadan di China merupakan potret nyata dari adaptasi budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad. Di wilayah barat laut seperti Provinsi Qinghai, menu berbuka puasa memiliki karakteristik yang berbeda dengan wilayah selatan.
Haiyun Ma, seorang akademisi dari Frostburg State University, Amerika Serikat, mengenang bagaimana kekayaan rempah dan tradisi lokal membentuk memori masa kecilnya di China. Ia menyoroti beberapa hidangan ikonik yang tetap lestari hingga kini:
• Sup Gandum dan Daging: Hidangan kaya energi yang menjadi pemulih stamina setelah berpuasa.
• Oil Cakes : Pastri goreng renyah yang menjadi camilan khas.
• Kurma Merah : Buah yang direbus dengan gula, menjadi hidangan pembuka wajib di hampir seluruh meja makan Muslim China.
"Islam telah menjadi bagian integral dari lanskap budaya wilayah ini selama berabad-abad. Ramadan di sini terasa sangat mengakar dan bersifat komunal," ungkap Ma.
Bagi anak-anak di Najiaying, momen yang paling dinanti adalah pembagian kantong kecil berisi manisan dan kurma sesaat sebelum salat berjamaah dimulai.
Tradisi ini menegaskan bahwa di balik rutinitas ibadah yang disiplin, terdapat pesan kasih sayang dan kebersamaan yang terus dijaga oleh komunitas Muslim di Negeri Tirai Bambu ini.(*)


