Protes Kunjungan Presiden Israel di Sydney Ricuh
Sydney: Polisi Australia dituding gunakan kekerasan berlebih saat amankan demonstrasi massa.
![]() |
| Polisi berjaga di depan pengunjuk rasa pro-Palestina saat demonstrasi menentang kunjungan Presiden Israel Isaac Herzog ke Australia di Sydney, [Saeed Khan/AFP] |
Gelombang protes besar kembali membayangi Australia menyusul tudingan penggunaan kekerasan berlebih oleh pihak kepolisian saat mengamankan aksi unjuk rasa terkait kunjungan Presiden Israel, Isaac Herzog, di Sydney.
Ketegangan meningkat setelah para pemimpin politik dan kelompok sipil menyerukan ketenangan di tengah kemarahan publik.
Kelompok Palestine Action Group Sydney menyerukan pengumpulan massa pada Selasa sore untuk memprotes apa yang mereka sebut sebagai "represi kekerasan" terhadap demonstran damai, sekaligus menuntut pengunduran diri jajaran pemerintah dan petinggi kepolisian.
Kericuhan pecah pada Senin 9 Februari 2026 malam di pusat kota Sydney ketika polisi menghadang ribuan demonstran yang mencoba memasuki area terlarang.
Diperkirakan sekitar 50.000 orang turun ke jalan dalam aksi tersebut. Pihak penyelenggara menyatakan polisi menggunakan semprotan merica dan melakukan kekerasan fisik terhadap peserta aksi, sementara kepolisian melaporkan telah mengamankan 27 orang, termasuk 10 orang dengan tuduhan penyerangan.
Abigail Boyd, anggota parlemen dari Partai Greens, memberikan kesaksian bahwa dirinya menjadi korban pemukulan oleh petugas saat mencoba menengahi situasi.
"Polisi berlari ke arah kerumunan dan menggiring mereka ke satu area. Ada sekelompok orang, sekitar 12 orang, yang sedang melaksanakan salat magrib dengan damai, namun polisi tetap memaksa mereka pindah," ujar Boyd kepada jurnalis.
Ia menambahkan bahwa dirinya dipukul di bagian kepala dan bahu saat mencoba menjaga keseimbangan. "Saya tidak mengerti bagaimana itu bisa dianggap sebagai respons yang proporsional."
Kritik dari Kelompok HAM
Kritik tajam juga datang dari kelompok keadilan rasial Democracy in Colour. Direktur Nasional mereka, Noura Mansour, menyatakan bahwa tindakan kepolisian bukan lagi bentuk penjagaan keamanan, melainkan tampilan kekuatan negara untuk membungkam suara kemanusiaan.
"Melihat polisi menggunakan semprotan merica dan menyerang orang yang sedang berdoa adalah pelanggaran martabat yang mendalam serta serangan langsung terhadap hak demokrasi," tegas Mansour dalam keterangannya kepada Al Jazeera.
Senada dengan itu, Amnesty International Australia menilai penyambutan terhadap Presiden Herzog sebagai tamu resmi dapat merusak komitmen Australia terhadap akuntabilitas dan keadilan global.
Sebagaimana diketahui, komisi penyelidikan PBB sebelumnya sempat menyoroti peran kepemimpinan Israel dalam konflik di Gaza yang telah berlangsung selama lebih dari dua tahun.
Seruan Ketenangan dari Pemerintah
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyatakan rasa prihatinnya atas eskalasi konflik di dalam negeri dan mendesak semua pihak untuk tenang.
"Rakyat Australia menginginkan dua hal: mereka tidak ingin konflik (luar negeri) dibawa ke sini, dan mereka ingin pembunuhan dihentikan, baik terhadap warga Israel maupun Palestina," ujar Albanese kepada stasiun radio Triple M.
Kunjungan Herzog sendiri merupakan tindak lanjut atas undangan PM Albanese pasca insiden penembakan di Pantai Bondi pada Desember lalu. Namun, kunjungan ini justru memicu polarisasi tajam.
Di sisi lain, Komisaris Polisi New South Wales, Mal Lanyon, membela tindakan anggotanya. Ia menyebut langkah petugas di lapangan sudah dibenarkan karena menghadapi massa yang ia gambarkan sebagai "kerumunan yang marah dan beringas." Perdana Menteri Negara Bagian NSW, Chris Minns, juga menambahkan bahwa polisi berada dalam situasi yang "sangat sulit" yang memaksa mereka untuk bertindak tegas (*).
