Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Rupiah Kembali Naik di Tengah Kekhawatiran Pasar Global

Jakarta : Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan hari ini. Data Bloomberg menunjukkan, rupiah naik 0,08 persen atau 14 poin menjadi Rp16.768 per dolar AS.
Lembaran uang rupiah dari nilai nominal terbesar hingga terkecil (Foto:Dokumentasi Bank Indonesia)

Pelaku pasar masih dalam posisi ‘wait and see’ menunggu hasil pertemuan the Fed hari Rabu besok. “Pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga di awal tahun ini,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa, 27 Januari 2026.

Penguatan nilai tukar rupiah hari ini juga dipengaruhi oleh kekhawatiran pasar terhadap perkembangan perpolitikan di AS. Pelaku pasar masih mencermati perselisihan antara Presiden Trump dan Ketua the Fed Jerome Powell yang memicu kekhawatiran soal independensi.

Kekhawatiran akan penutupan pemerintahan AS kembali muncul setelah anggota Senat partai Demokrat menyatakan akan memblokir RUU Pendanaan pemerintah. Ancaman pemblokiran dilakukan pasca penembakan yang dilakukan aparat imigrasi AS di Minneapolis belum lama ini.




Sementara itu, Presiden Trump kembali melontarkan ancaman tarif perdagangan 25 persen terhadap Korea Selatan. Alasannya, Seoul menunda pemberlakuan kesepakatan perdagangan baru-baru ini.

“Pasar tetap waspada terhadap langkah lebih lanjut dari Trump. Di sisi lain, ketegangan geopolitik meningkat di Iran dan Timur Tengah, seiring kedatangan kapal-kapal AS di wilayah tersebut,” ujar Ibrahim.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati tantangan pembiayaan pemerintah tahun ini. Target pembiayaan utang netto dalam RAPBN 2026 tercatat sebesar Rp832,21 triliun.

“Namun kebutuhan untuk menarik utang baru secara bruto jauh lebih besar, mencapai Rp1.650 triliun. Angka tersebut meliputi kebutuhan untuk menutup defisit anggaran dan melunasi pokok utang lama yang jatuh tempo pada tahun berjalan,” ucap Ibrahim.

Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi risiko kekurangan (shortage risk) akibat ketidakpastian kondisi ekonomi makro dan pasar keuangan global. Kondisi ini membuat investor, khususnya asing, bersikap sangat hati-hati. 

“Ketergantungan pada penjualan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai instrumen utama pun menghadapi tantangan kompleks. Investor asing dilaporkan juga mencermati kebijakan fiskal Indonesia yang dinilai kurang hati-hati,” kata Ibrahim menutup analisisnya.(*)

Hide Ads Show Ads