Hari ini
Cuaca 0oC
Karawang Terkini

Tak Banyak yang Tahu! KH Sahal Mahfudz Nikah Tanpa Kenal Calon Istri, Baru Serumah Setelah 2 Tahun

PATI:  Siapa yang tak kenal sosok KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz (1937-2014)? Di mata umat, beliau bukan sekadar kiai yang setia mengaji kitab kuning di pesantren. Beliau adalah penggerak ekonomi umat, penulis produktif, serta Rais ‘Aam Syuriyah PBNU selama tiga periode berturut-turut (2000-2014).
Potret KH M.A. Sahal Mahfudz, Rais Aam PBNU 3 periode yang kisah pernikahan mendadaknya pada 17 Agustus 1966 baru terungkap.

Namun di balik kebesaran kiprahnya di NU dan MUI, tersimpan kisah pernikahan yang unik dan jarang diketahui publik.

Kisah itu bermula pada *17 Agustus 1966*. Saat itu Kiai Sahal sedang bersilaturahmi ke rumah keluarga di Desa Sirahan, Cluwak, Pati. Tiba-tiba seorang santri datang menyusul dengan pesan penting: diminta segera pulang ke Kajen oleh sang paman, KH Abdullah Salam.

Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya penuh tanda tanya. Sesampainya di Kajen, beliau terkejut mendapati para kiai besar sudah berkumpul, di antaranya KH Abdullah Salam dan KH Bisri Syansuri.

Saat ditanya ada hajat apa, sang paman menjelaskan hari itu juga ia akan dinikahkan dengan putri KH Fatah Jombang — yang juga cucu KH Bisri Syansuri — yakni Nyai Nafisah. Sosok perempuan yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.

Sebagai wujud takzim kepada paman, Kiai Sahal pun _sami’na wa atha’na_. Akad nikah langsung digelar dan dipimpin langsung oleh KH Bisri Syansuri.

Yang paling berkesan, setelah ijab kabul Kiai Sahal tidak langsung hidup satu atap. Beliau baru benar-benar bertemu dan berkumpul dengan Nyai Nafisah *dua tahun kemudian, tepatnya 6 Juni 1968*.

Selama dua tahun itu, Kiai Sahal menjalani aktivitas seperti biasa di Kajen, sementara Nyai Nafisah masih menyelesaikan pendidikannya sebagai mahasiswi tingkat tiga di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ketika akhirnya hidup bersama, potret awal rumah tangga tokoh besar ini sangat membumi. Kiai Sahal telaten berjualan kitab, sementara Nyai Nafisah tekun menjahit pakaian untuk membantu ekonomi keluarga.

Kisah ini mirip dengan perjalanan keponakannya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang bahkan baru bersua sang istri tiga tahun pasca akad nikah.

Kini kedua tokoh besar itu telah berpulang. Namun keteladanan tentang ketaatan, kesederhanaan, dan perjuangan mereka akan selalu menjadi lentera.

Ila ruhi KH Sahal Mahfudz wa Gus Dur, Lahumul Fatihah (*)

Sumber: Disarikan dari tulisan Muchlishon Rochmat, Alumni Mathali'ul Falah Kajen Pati.

Hide Ads Show Ads