Kemenperin Siap Bangun Ekosistem Industri Rumput Laut Nasional, Target Jadi Nomor Satu Dunia
Jakarta: Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyatakan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) siap mengambil langkah untuk membangun ekosistem industri rumput laut nasional. Pengembangan tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah, memperkuat hilirisasi, dan mendorong Indonesia menjadi produsen rumput laut nomor satu dunia.
Hal itu disampaikan Sarmuji dalam Peluncuran Integrated Seaweed Development Action Plan (ISDAP) 2026–2030 di kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026.
"Insyaallah jajaran Kemenperin siap mengambil langkah-langkah untuk mempersiapkan ekosistem industri rumput laut ini sebagai satu potensi baru yang membanggakan kita semua. Mudah-mudahan ini menjadi langkah penting agar produksi rumput laut Indonesia dan seluruh hilirisasinya bisa menjadikan produksi rumput laut Indonesia nomor satu di dunia, seperti yang disampaikan Kepala Bappenas (Rachmat Pambudy)," kata Sarmuji dalam keterangan yang diterima tvrinews, Selasa, 6 Oktober 2026.
Sarmuji mengatakan, pengembangan industri rumput laut menjadi bagian dari agenda industrialisasi dan hilirisasi nasional. Potensi rumput laut yang tersebar di berbagai daerah dinilai dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah sekaligus membentuk rantai industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan ISDAP 2026–2030 yang diinisiasi dan dikoordinasikan Kementerian PPN/Bappenas.
"Bagi Kementerian Perindustrian, inisiatif ini merupakan langkah penting untuk memperkuat sinergi pembangunan rumput laut nasional, khususnya dalam industrialisasi, hilirisasi, penciptaan nilai tambah dan pertumbuhan ekonomi," lanjutnya.
Ia menjelaskan, pengembangan industri rumput laut juga memiliki keterkaitan dengan kinerja manufaktur nasional yang terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada triwulan II 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen, sedikit di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
Pada periode yang sama, industri pengolahan nonmigas memberikan kontribusi Rp1.102,88 triliun terhadap PDB, sekitar 38,98 persen terhadap realisasi investasi nasional, dan sekitar 82,40 persen terhadap ekspor nasional. Sebanyak 14 dari 15 subsektor industri pengolahan nonmigas juga mencatat pertumbuhan positif.
Berdasarkan data Manufacturing Value Added (MVA) 2025 yang dirilis Bank Dunia, nilai tambah manufaktur Indonesia mencapai 275,61 miliar dolar AS. Capaian tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia dan pertama di Asia Tenggara.
Sarmuji menambahkan, industri makanan dan minuman juga menjadi salah satu sektor strategis dalam pengembangan ekonomi nasional. Pada semester I 2026, industri makanan dan minuman menyumbang 41,86 persen terhadap PDB industri nonmigas dan 7,16 persen terhadap PDB nasional, dengan pertumbuhan mencapai 6,77 persen.
Rumput laut, lanjutnya, memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku berbagai produk pangan dan industri bernilai tambah.
"Rumput laut memiliki peluang pemanfaatan yang luas, tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bahan baku berbagai produk bernilai tambah. Produk turunannya antara lain pangan, agar dan karagenan, hingga bahan untuk industri farmasi, kosmetik, nutraceutical, biomaterial, dan bioplastik," lanjutnya.
Karena itu, Kemenperin memandang hilirisasi dan diversifikasi produk sebagai bagian penting dalam pengembangan industri rumput laut. Strategi tersebut mencakup peningkatan kapasitas industri, inovasi, pembukaan pasar baru, serta peningkatan daya saing produk nasional.
Selain aspek ekonomi, pengembangan industri rumput laut juga perlu memperhatikan keberlanjutan, mulai dari ketersediaan bahan baku, kualitas lingkungan, efisiensi sumber daya, hingga manfaat ekonomi bagi masyarakat di sentra produksi.
Arah pengembangan industri rumput laut tersebut telah dimasukkan dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2026–2045 yang saat ini dalam proses finalisasi. Strategi itu mencakup kesinambungan rantai pasok dari bahan baku hingga produk hilir.
"Pengembangan industri tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan sentra produksi bahan baku di hulu serta industri pengguna dan pasar di hilir," imbuhnya.
Sarmuji menilai pembangunan ekosistem industri rumput laut membutuhkan kolaborasi pemerintah, sektor swasta, pembiayaan, riset, inovasi, teknologi, hingga kerja sama internasional. Sinergi tersebut diperlukan untuk membangun rantai nilai industri yang memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional.
Kemenperin juga mendorong industrialisasi rumput laut tidak berhenti pada pengolahan komoditas, tetapi berkembang menjadi rantai nilai yang mampu mengoptimalkan potensi ekonomi biru dengan tetap menjaga kelestarian ekosistem laut.
Sarmuji berharap ISDAP 2026–2030 menjadi landasan bagi langkah bersama yang lebih terarah dalam membangun industri rumput laut nasional.
"Kementerian Perindustrian siap berkontribusi dalam memperkuat hilirisasi, nilai tambah, daya saing, dan akses pasar, serta terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan," tuturnya.(*)
