Ingatkan Relasi Segitiga Manusia-Alam-Tuhan, Pesan Penting untuk Karawang Industri
KARAWANG, Di tengah hiruk pikuk pembangunan pabrik dan investasi triliunan di Karawang, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan satu hal yang sering terlupa: keseimbangan peradaban dan agama.
Hal itu disampaikan Menag dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Konfusianisme ASEAN-Tiongkok Ke-5 di Hariston Hotel & Suites Jakarta, Rabu (8/10/2026).
"Sangat ditekankan perlunya relasi segitiga, yaitu antara manusia, alam, dan Tuhan. Jika relasi antara manusia, alam, dan Tuhan ini renggang, maka problem kemanusiaan akan bermunculan," kata Nasaruddin dalam siaran pers Kemenag, Kamis (8/10/2026).
Menag menegaskan pemanfaatan alam tidak boleh hanya antroposentris, hanya untuk kepentingan manusia semata. Ia mengajak tokoh agama menjadi garda terdepan menyuarakan kesadaran lingkungan.
"Menjadi kewajiban semua tokoh agama untuk mengajak seluruh umatnya mencintai alam semesta seperti mencintai dirinya sendiri," pesannya.
Selain lingkungan, Menag juga menyoroti persaudaraan kemanusiaan. Di tengah tantangan global seperti kemiskinan dan kelaparan, budi pekerti dan solidaritas menjadi kunci.
"Semua anak manusia itu bersaudara. Mari kita kembali kepada ajaran suci kita masing-masing. Semakin dekat kita kepada ajaran agama kita, maka semakin bermartabat manusia itu sendiri," pungkasnya.
Refleksi untuk Karawang Kekinian:
Pesan "relasi segitiga" ini sangat menohok untuk Karawang.
Dengan status gudang industri terbesar se-Asia Tenggara, Karawang menghadapi ironi: investasi Rp 20,43 triliun (Semester I-2025) dengan TPT masih 7,99 persen (BPS Agustus 2025). Di sisi lain, masalah lingkungan - banjir di Telukjambe, limbah industri, alih fungsi lahan - terus berulang karena relasi manusia dan alam yang renggang.
Jika tokoh agama di Karawang - dari MUI, NU, Muhammadiyah, hingga tokoh lintas agama - tidak menjadi garda terdepan mengingatkan industri dan masyarakat untuk mencintai alam seperti mencintai diri sendiri, maka pembangunan MOTEKAR 393 yang diusung Bupati Aep Syaepuloh akan kehilangan ruhnya.
Karawang tidak hanya butuh literasi AI seperti pesan Wapres Gibran kemarin, atau bahasa Rusia seperti di SMA Taruna Nusantara, tetapi juga literasi ekologi berbasis agama.
Pabrik boleh maju, tapi tanpa keseimbangan manusia-alam-Tuhan, yang lahir hanya problem kemanusiaan baru: pengangguran di lumbung pabrik, warga susah kerja di tanahnya sendiri.(*)
