PBB Ungkap Serangan Israel Tak Kunjung Henti, Akses Pendidikan Terbatas di Tepi Barat
New York : PBB menyebut enam sekolah yang didirikan Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UN Relief and Works Agency/UNRWA) di Tepi Barat tidak dapat diakses. Sementara enam sekolah lainnya telah ditutup dan situasi itu telah berlangsung lebih dari satu tahun.
![]() |
| Seorang perempuan dan dua anak berjalan di dekat Kota Jenin, Tepi Barat (Foto: Dokumentasi/ UNFPA Palestina) |
Hal itu disampaikan Juru Bicara PBB Stéphane Dujarric kepada para jurnalis di New York pada Rabu, 15 Juli 2026 dilansir UN News. Dujarric menambahkan 10 sekolah di Area C, Tepi Barat, baru-baru ini ditinggalkan akibat serangan para pemukim Israel dan pembatasan akses.
“Di tengah berlanjutnya serangan militer Israel di Gaza serta operasi penggerebekan di Tepi Barat. Para pekerja kemanusiaan tetap memberikan bantuan penyelamat jiwa kepada masyarakat,” ujarnya menegaskan.
Selama sebulan terakhir, organisasi-organisasi mitra PBB telah menyalurkan lebih dari 378.000 barang bantuan kepada warga sipil di Gaza. Termasuk terpal, perlengkapan kebersihan, dan jeriken.
“Di Tepi Barat, Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) memberikan voucher pangan. Serta, bantuan tunai kepada sekitar 286.000 orang sepanjang Juni,” ucap Dujarric.
Namun demikian, PBB menyatakan keprihatinannya bahwa persediaan yang dibutuhkan kemungkinan tidak akan mencukupi hingga musim dingin. Yakni, tanpa adanya peningkatan dukungan pendanaan.
"Tanpa tambahan pendanaan, persediaan yang telah menipis tidak dapat diisi kembali. Sehingga keluarga-keluarga yang rentan akan menghadapi risiko yang lebih besar, terutama ketika para pekerja kemanusiaan sedang mempersiapkan respons menghadapi musim dingin," kata Dujarric.
Sementara, Wakil Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina Suzanna Tkalec, memimpin misi kemanusiaan bersama. Yaitu, ke sebuah bekas sekolah PBB di Gaza yang saat ini menampung 18 keluarga pengungsi.
Dujarric mengatakan, berdasarkan informasi dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), kondisi kehidupan keluarga-keluarga tersebut memburuk. Menurutnya, hal itu diakibatkan minimnya akses terhadap bantuan kemanusiaan.
"Mitra-mitra kemanusiaan kami berkomitmen untuk memobilisasi bantuan. Guna memenuhi kebutuhan paling mendesak masyarakat," katanya menekankan.(*)
