UOB: Inflasi Terkendali, Ekonomi Tetap Stabil
Jakarta : UOB menilai lonjakan inflasi Indonesia pada awal 2026 dinilai bersifat sementara dan tidak mencerminkan tekanan struktural terhadap perekonomian. Laporan UOB menyebut kenaikan inflasi dipicu faktor teknis, terutama basis rendah energi dan kenaikan emas, sementara permintaan domestik terkendali.
Secara tahunan, Inflasi Januari meningkat di atas target Bank Indonesia, namun bulanan terjadi deflasi 0,15 persen. UOB menilai inflasi didorong perumahan, utilitas, bahan bakar rumah tangga, perawatan pribadi, serta kenaikan harga emas.
“Inflasi Januari meningkat 3,55% secara tahunan. Secara bulanan terjadi deflasi 0,15%,” tulis UOB dalam Macro Note, Selasa, 3 Februari 2026.
Tekanan terbesar berasal dari energi, inflasi melonjak 15 persen tahunan akibat basis rendah tarif listrik dan konsumsi liburan. UOB menilai lonjakan tersebut bersifat teknis, bukan sinyal tekanan permintaan yang kuat.
“Lonjakan inflasi energi didorong efek basis tarif listrik. Peningkatan konsumsi bahan bakar terjadi selama periode liburan,” tulis laporan tersebut.
Di sisi lain, harga pangan menunjukkan perbaikan dengan penurunan bulanan seiring membaiknya pasokan cabai dan bawang. Diskon tarif kendaraan pemerintah turut membantu menahan tekanan inflasi jangka pendek.
Secara komponen, inflasi Januari dipimpin harga diatur pemerintah 9,71 persen, diikuti inflasi inti 2,45 persen. Volatile food tercatat 1,14 persen, menunjukkan tekanan inflasi berasal faktor administratif, bukan dorongan permintaan berlebihan.
UOB menilai kenaikan inflasi Januari kemungkinan hanya bersifat sementara. “Kenaikan inflasi Januari bersifat sementara dan bukan mencerminkan tekanan struktural,” tulis UOB.
Ke depan, UOB memperkirakan inflasi 2026 stabil dalam kisaran target Bank Indonesia 2,5 persen plus minus 1 persen. Rata-rata inflasi 2026 diproyeksikan 2,5 persen, lebih tinggi dibanding estimasi 2025 sebesar 2,1 persen.
Pandangan ini memperkuat narasi fundamental ekonomi Indonesia relatif stabil. Deflasi Januari dinilai bukti kebijakan efektif, sementara tekanan tahunan dipengaruhi faktor teknis.(*)
