Kisah Jamrud: Sukses Album Jutaan Keping dan Kehilangan Dua Personel di Puncak Karier
CIMAHI – Nama Jamrud pernah menjadi salah satu kekuatan besar musik rock Indonesia. Berawal dari sebuah grup musik asal Cimahi, Jawa Barat, perjalanan mereka mencapai puncak popularitas melalui album-album laris, lagu yang dikenal lintas generasi, serta kisah kehilangan dua personel penting ketika karier mereka sedang menanjak.
Perjalanan tersebut diulas dalam tayangan kanal YouTube @rekapmusikterkini yang dipublikasikan pada 28 Oktober 2026. Tayangan itu menceritakan perjalanan Jamrud sejak masih menggunakan nama Jamrock, perubahan formasi, keberhasilan menembus industri rekaman, hingga masa sulit setelah kepergian gitaris Fitrah Alamsyah dan drummer Sandi Handoko.
Cikal bakal Jamrud terbentuk di Cimahi pada 1984 dengan nama Jamrock. Seiring waktu, grup ini mengalami pergantian personel hingga dikenal melalui formasi Azis Mangasi Siagian pada gitar, Ricky Teddy pada bas, Krisyanto sebagai vokalis, Fitrah Alamsyah pada gitar, dan Sandi Handoko pada drum. Sebelum menciptakan lagu sendiri, mereka banyak membawakan karya grup rock lain dan dikenal di lingkungan musik Bandung.
Kesempatan masuk industri rekaman datang setelah Jamrock membuat sejumlah demo lagu yang kemudian mendapat sambutan positif dari produser musik Log Zhelebour. Mereka bergabung dengan Logiss Records dan mengubah nama menjadi Jamrud. Album Nekad pada 1996 menjadi langkah awal kesuksesan dengan penjualan yang disebut mencapai sekitar 150 ribu keping, disusul Putri pada 1997 sekitar 300 ribu keping dan Terima Kasih pada 1998 yang disebut menembus 800 ribu keping. Lagu seperti Berakit-rakit dan Terima Kasih ikut memperluas popularitas mereka.
Puncak kesuksesan komersial Jamrud semakin terlihat melalui album Ningrat pada 2000. Album yang memuat lagu populer seperti Surti-Tejo dan Pelangi di Matamu itu disebut terjual sekitar dua juta keping serta meraih lima penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI). Kesuksesan tersebut berlanjut ketika Jamrud melakukan rekaman di Studio 301, Sydney, Australia, yang menghasilkan album Sydney 090102 pada 2002. Album itu juga mencatat penjualan lebih dari satu juta keping dan menghadirkan lagu yang terus dikenal, termasuk Selamat Ulang Tahun.
Namun, perjalanan menuju puncak popularitas tersebut diwarnai kehilangan. Fitrah Alamsyah meninggal dunia pada Agustus 1999, kemudian Sandi Handoko menyusul pada Oktober 2000. Kepergian keduanya menjadi pukulan bagi perjalanan band. Setelah Sandi tiada, posisi drummer kemudian diisi Suherman Husin, sedangkan posisi gitar yang sebelumnya ditempati Fitrah tidak diisi personel tetap baru. Tayangan tersebut juga mengangkat pesan Fitrah agar posisinya tidak digantikan apabila dirinya sudah tiada.
Kisah Jamrud memperlihatkan perjalanan sebuah band daerah yang mampu menembus industri musik nasional melalui karya dan karakter musikal yang kuat. Lagu-lagu mereka masih dikenal hingga sekarang, sementara perjalanan para personelnya menjadi bagian dari sejarah musik rock Indonesia yang tidak hanya berisi kesuksesan, tetapi juga persahabatan, kehilangan, dan keteguhan melanjutkan karya.(*)
