Harga Beras Beras Volatile Naik 0,77 Persen, Emas Perhiasan Justru Deflasi
JAKARTA – Lonjakan harga pangan bergejolak, terutama hortikultura seperti cabai dan tomat, mendorong kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) secara bulanan pada Oktober 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan (month-to-month) Oktober 2026 di level 0,22 persen. IHK naik dari 112,31 pada September 2026 menjadi 112,56.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan sektor makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor utama kenaikan dengan inflasi 0,51 persen dan andil 0,15 persen.
"Kelompok pengeluaran pendorong inflasi bulanan terbesar pada makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi 0,51 persen," ungkap Ateng di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Tekanan terbesar bersumber dari hortikultura. Cabai merah memberi andil 0,13 persen, disusul cabai rawit 0,05 persen, dan tomat 0,04 persen. Sayuran hijau seperti sawi hijau dan sawi putih masing-masing andil 0,01 persen.
Di luar pangan, transportasi udara mencatat andil inflasi 0,01 persen. Sebaliknya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya deflasi 0,06 persen, dengan emas perhiasan sebagai penekan utama lewat andil deflasi 0,01 persen.
Berdasarkan komponen pembentuk IHK, seluruh kategori naik, meliputi komponen inti, harga diatur pemerintah (administered prices), dan harga bergejolak (volatile foods).
Kenaikan tertinggi dibukukan kelompok harga bergejolak dengan inflasi 0,77 persen dan andil 0,13 persen, disokong fluktuasi cabai merah, cabai rawit, tomat, labu siam, dan sawi putih.
Komponen inti inflasi 0,12 persen dengan andil 0,07 persen, tanpa komoditas spesifik yang mendominasi di atas ambang minimum kontribusi 0,01 persen.(*)
