Tajamnya Lidah, Tubanya Hati, dan Hilangnya Budi
Karawang Kekinian : Ada tiga lagu dangdut yang selalu diputar di sebuah warung kopi kecil. Pemilik warung itu tidak pernah sengaja memutarnya, tapi kaset kompilasi itu terus saja berputar, seolah tahu jalan cerita hidup orang-orang yang mampir di sana.
Lagu pertama tentang karang yang tajam. Lagu kedua tentang air susu yang dibalas air tuba. Dan lagu terakhir tentang balas budi.
Jika dirangkai, tiga lagu itu adalah hidup seorang perempuan bernama Sari.
Sari bukan perempuan jahat sejak lahir. Dia hanya perempuan yang pelan-pelan lupa cara berterima kasih.
Sepuluh tahun lalu, Sari datang ke kota dengan koper butut dan anak kecil berusia tiga tahun di gendongan. Suaminya pergi tanpa kabar, meninggalkan utang dan selembar surat cerai yang belum sempat ditandatangani. Tidak ada keluarga, tidak ada teman. Yang dia punya hanya ijazah SMP dan keberanian yang dipaksakan.
Di hari pertama, dia tidur di teras toko yang sudah tutup. Di hari kedua, dia ditolong oleh seorang laki-laki bernama Harun.
Harun bukan orang kaya. Dia adalah penjaga gudang di pasar induk. Usianya hampir lima puluh, istrinya sudah meninggal, anak-anaknya sudah merantau. Hidupnya sederhana, gajinya pas-pasan, tapi hatinya luas. Melihat Sari kedinginan menggendong anak sambil menawarkan tisu di perempatan, Harun menghampiri.
"Jangan di sini, Dek. Anakmu kasihan. Ikut saya dulu," katanya.
Harun memberi Sari tempat tinggal sementara di bedeng kecil di belakang gudang. Bedeng itu bekas tempat karung beras, bocor di beberapa titik, tapi bagi Sari itu adalah istana. Harun juga yang mengenalkan Sari pada juragan sembako, memberi modal awal seratus ribu untuk membeli kerupuk dan gorengan, meminjamkan meja kayu bekas untuk berjualan.
Tidak ada perjanjian tertulis. Tidak ada bunga. Harun hanya bilang, "Nanti kalau sudah laku, ganti saja. Kalau belum laku, ya sudah, bawa pulang buat anakmu makan."
Dari seratus ribu itu, Sari hidup. Hari pertama untung sepuluh ribu. Hari kedua dua puluh ribu. Pelan-pelan dia bisa beli kompor bekas, bisa beli wajan, bisa menyewa kontrakan petak yang lebih layak untuk anaknya. Semua itu terjadi karena tangan Harun yang diam-diam menopang dari belakang.
Anak Sari tumbuh. Sari pun tumbuh. Dalam tiga tahun, lapak kerupuknya menjadi warung nasi. Warung nasi menjadi dua cabang. Sari yang dulu tidak bisa menghitung uang kembalian, sekarang sudah punya dua karyawan dan satu sepeda motor untuk antar jemput dagangan. Orang-orang memanggilnya Bu Sari. Dia disegani. Dia dianggap perempuan tangguh yang sukses dari nol.
Dan di titik itulah, pelan-pelan, tajam itu muncul.
Kau pernah mendengar lirik itu? Lagu dangdut yang syairnya begitu perih.
_Tajamnya karang... akan kalah oleh tajamnya lidahmu..._
Itulah yang terjadi pada Bu Sari. Kesuksesannya membuat lidahnya menjadi karang. Kata-katanya menjadi pisau.
Awalnya hanya keluhan kecil. "Harun ini kalau datang suka minta kopi gratis melulu." Padahal Harun hanya mampir sekali seminggu, duduk lima menit, tidak pernah minta apa-apa.
Lalu menjadi sinis. "Harun itu kalau cerita suka melebih-lebihkan jasanya. Padahal saya juga kerja keras sendiri."
Sampai pada satu hari, puncaknya terjadi.
Pagi itu Harun datang dengan wajah pucat. Tangannya gemetar. Dia butuh bantuan. Anak bungsunya yang merantau di luar pulau mengalami kecelakaan dan butuh biaya operasi. Harun sudah menjual semua yang dia punya, masih kurang dua juta.
"Bu Sari, saya malu sebenarnya. Tapi saya sudah tidak tahu harus ke siapa lagi. Boleh saya pinjam dulu dua juta? Bulan depan saya cicil, saya masih ada gaji," ucapnya dengan suara lirih, menahan malu.
Apa jawaban Sari?
Dia meledak di depan dua karyawannya dan beberapa pembeli yang sedang makan.
"Pak Harun! Enak saja! Dikira saya bank apa? Dulu memang bapak pernah nolong saya, tapi itu kan sudah lama! Sudah saya balas dengan kasih bapak makan gratis di sini berkali-kali! Jangan mentang-mentang pernah nolong sekali, terus mau ngatur hidup saya! Saya susah payah bangun usaha ini sendiri, bukan karena bapak!"
Kata-kata itu keluar begitu kasar, begitu cepat, begitu menghakimi. Tidak ada jeda. Tidak ada empati.
Harun terdiam. Mukanya yang pucat menjadi lebih pucat. Dia tidak marah. Dia hanya mengangguk pelan, seperti orang yang baru saja dipukul tepat di ulu hati.
"Maaf, Bu. Saya salah. Saya permisi," katanya, lalu pergi dengan langkah gontai.
Dua karyawannya saling pandang. Pembeli yang tadi makan pun terdiam. Tidak ada yang membela Harun secara terang-terangan, tapi semua merasakan hawa yang tidak enak. Udara di warung itu tiba-tiba menjadi berat.
Malam harinya, Sari tidak bisa tidur. Bukan karena merasa bersalah, tapi karena merasa benar. Dia merasa Harun tidak tahu diri. Dia merasa semua jerih payahnya sendiri.
Padahal, jika dia mau jujur, dia sedang melakukan apa yang dinyanyikan di lagu kedua yang sering diputar di warung kopi itu.
_Air susu dibalas dengan air tuba..._
Itu adalah peribahasa paling tua di negeri ini. Kebaikan dibalas dengan kejahatan. Ketulusan dibalas dengan pengkhianatan. Harun memberi air susu. Air susu itu berupa tempat tinggal saat Sari tidak punya atap, modal saat Sari tidak punya uang, perlindungan saat Sari diganggu preman pasar. Air susu itu adalah kasih sayang seorang bapak kepada anaknya, tanpa mengharap apa-apa.
Dan apa yang Sari berikan? Air tuba. Racun. Racun berupa kata-kata kasar, penghinaan di depan umum, dan pengingkaran total atas jasa seseorang.
Kau tahu apa itu air tuba? Tuba adalah racun dari akar tumbuhan yang digunakan untuk membunuh ikan di sungai. Ikan yang kena tuba akan mengambang, mabuk, lalu mati. Itulah yang dilakukan kata-kata kasar. Ia tidak membunuh fisik, tapi ia membunuh harga diri. Ia membuat hati seseorang mabuk oleh luka, lalu mati pelan-pelan di dalam.
Harun tidak datang lagi setelah hari itu. Seminggu, dua minggu, sebulan. Warung Sari tetap ramai, tapi ada yang aneh. Karyawannya yang paling lama mengundurkan diri. "Maaf Bu, saya mau cari tempat lain yang lebih tenang," katanya. Pelanggan setianya yang biasanya bercanda, sekarang hanya makan lalu pergi.
Sari mulai merasakan sepi yang aneh di tengah keramaian. Uangnya banyak, tapi hatinya kosong. Ia baru sadar, selama ini bukan hanya modal dagang yang Harun berikan, tapi juga rasa aman. Kehadiran Harun di sudut warung, menyeruput kopi sambil mengawasi pembeli yang berbuat curang, adalah jimat yang tidak terlihat.
Lalu cobaan itu datang. Bukan dari manusia, tapi dari keadaan.
Warung cabang keduanya terbakar karena korsleting listrik di tengah malam. Tidak ada korban jiwa, tapi semua modal hangus. Barang-barang, kompor, kulkas, semuanya jadi abu. Sari panik. Asuransi tidak ada. Tabungannya tidak cukup untuk membangun kembali dua warung sekaligus. Dia mencoba pinjam ke bank, ditolak karena tidak ada agunan. Dia mencoba pinjam ke teman-teman barunya yang selama ini memuji kesuksesannya, semua menghindar dengan alasan masing-masing.
Di hari ketiga setelah kebakaran, dengan sisa uang dua ratus ribu di dompet dan anaknya yang demam karena menghirup asap, Sari duduk di trotoar depan warungnya yang hangus. Menangis. Tidak tahu harus berbuat apa.
Dan di situlah Harun datang lagi.
Harun datang dengan becak. Di atas becak ada dua karung beras, satu kompor bekas, dan satu amplop cokelat.
Tanpa banyak bicara, Harun menurunkan semuanya.
"Ini dari kawan-kawan di pasar. Mereka dengar warung Ibu kena musibah. Berasnya biar bisa jualan lagi besok. Kompornya punya saya dulu, masih bisa dipakai. Dan ini..." Harun menyodorkan amplop cokelat itu, "Ini dua juta yang kemarin saya mau pinjam. Ternyata saya dapat dari jual motor lama saya. Saya tidak jadi pakai, anak saya sudah ditangani kantornya. Jadi uang ini buat Ibu saja. Tidak usah diganti."
Sari menatap Harun. Air matanya yang tadi sudah kering, kini mengalir lagi, lebih deras.
Bagaimana mungkin? Laki-laki yang sudah ia hina, yang sudah ia racuni dengan air tuba, masih datang membawa air susu?
"Pak... kenapa? Kenapa bapak masih mau nolong saya? Padahal saya sudah jahat sama bapak. Omongan saya kasar. Saya lupa budi," isak Sari, suaranya pecah.
Harun tersenyum. Senyum yang sama seperti sepuluh tahun lalu saat pertama kali menolongnya di teras toko.
"Bu Sari, saya sudah tua. Saya sudah lihat banyak orang. Orang yang lidahnya tajam, biasanya hatinya sedang takut. Saya tahu Ibu takut miskin lagi. Makanya jadi tajam. Tidak apa-apa. Saya tidak pernah simpan tuba di hati saya. Saya hanya simpan susu. Kalau Ibu kasih saya tuba, tuba itu biar saya buang. Susu saya tetap saya kasih."
Pada detik itu, lagu ketiga yang ada di kaset kompilasi warung kopi itu terputar di kepala Sari. Bukan dari speaker, tapi dari ingatannya sendiri. Lagu yang dulu sering dinyanyikan ibunya saat menidurkan dia.
_Kalau bukan karena budimu..._
_Tak mungkin aku begini..._
_Jasamu... tak akan kulupakan..._
_Budi baikmu... akan ku kenang selalu..._
Lagu Balas Budi. Lagu tentang orang yang tidak lupa daratan. Lagu tentang manusia yang tahu bahwa dia bisa berdiri hari ini karena ada bahu orang lain yang dulu menjadi pijakannya.
Sari bersujud. Bukan sujud menyembah Harun, tapi sujud karena malu pada dirinya sendiri dan pada Tuhan.
Sejak hari itu, Sari berubah total. Warungnya dibangun kembali, lebih kecil dari sebelumnya, tapi lebih ramai dari sebelumnya. Karena di setiap piring nasi yang ia sajikan, ada doa. Di setiap kata yang ia ucapkan kepada pembeli, ada kelembutan.
Dia tidak pernah lagi kasar. Dia tidak pernah lagi merasa semua karena usahanya sendiri. Di dinding warungnya yang baru, dia menempel tulisan besar, bukan untuk pembeli, tapi untuk dirinya sendiri:
"Tajamnya lidah bisa menghancurkan apa yang dibangun oleh bertahun-tahun kebaikan. Jangan balas air susu dengan air tuba. Belajarlah balas budi, bahkan kepada orang yang sudah kau lukai."
Harun kini tidak lagi menjaga gudang. Dia sudah pensiun. Tapi setiap pagi, dia selalu punya tempat duduk khusus di warung Sari, dengan kopi hitam tanpa gula dan gorengan gratis yang tidak pernah ia minta. Dan setiap kali ada anak muda yang mampir dan mengeluh tentang hidup, Sari akan menceritakan kisahnya. Kisah tentang karang, tentang tuba, dan tentang budi.
Agar tidak ada lagi orang yang lupa, bahwa menjadi manusia bukan hanya soal sukses, tapi soal ingat siapa yang menolongmu saat kau bukan siapa-siapa.(Red)
