Pindang Bandeng Banyusari, Dari Dapur Tradisional Menuju Ekonomi Kreatif Karawang
KARAWANG : Aroma gurih ikan bandeng yang dipindang masih mengepul di dapur-dapur Desa Cicinde, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang. Kuliner yang telah turun-temurun itu kini tak lagi sekadar lauk harian, melainkan ikon ekonomi kreatif Karawang timur.
Kecamatan Banyusari yang berjarak 36 kilometer dari pusat kota Karawang dan membawahi 12 desa — mulai dari Banyuasih, Cicinde Utara-Selatan, hingga Jayamukti — memang dikenal sebagai sentra bandeng. Tambak-tambak produktif membentang, memasok bahan baku segar setiap hari.
“Potensi Banyusari ada di subsektor kuliner, yaitu Pindang Bandeng. Desa Cicinde bahkan ditetapkan sebagai Centra Pindang Bandeng,” ujar Anggota DPRD Karawang Fraksi Golkar, Akmaludin, saat sosialisasi Perda Nomor 4 Tahun 2022 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif di Banyusari beberapa waktu lalu.
Perda Ekraf yang mencakup 17 subsektor itu diharapkan menjadi payung hukum bagi pelaku UMKM bandeng untuk naik kelas, baik dari sisi pengemasan maupun pemasaran digital.
Di lapangan, transformasi itu sudah terlihat. Di Desa Jayamukti, UMKM Israfood yang berada di kawasan yang dijuluki warga “Kampung Pindang” mampu memproduksi bandeng presto hingga 1,5 ton per minggu. Prosesnya masih mempertahankan bumbu segar — bawang merah, bawang putih dikupas manual — namun pengemasan sudah menggunakan standar vakum dan rantai dingin.
Geliat serupa ditangkap oleh Rumah Bandeng Karawang. Tak hanya menjual Bandeng Presto, mereka mengembangkan turunan produk seperti Sambal Cumi, Siwang Terasi Bawang, Kerupuk Rajungan rasa Original dan Bumbu Seblak, hingga Dodol Buah Mangrove sebagai oleh-oleh khas pesisir Karawang.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Karawang saat kunjungan ke Israfood Jayamukti pada September 2025 lalu menyebut, Banyusari memiliki rantai pasok lengkap: dari tambak, pengolahan, hingga pasar.
Kini tantangannya tinggal satu: bagaimana pindang yang dulu dijual berkeliling dengan bakul, bisa masuk ke etalase modern dan marketplace tanpa kehilangan cita rasa autentiknya.(*)
