Mengenal Angklung Pasundan, Warisan Budaya Sunda yang Mendunia dari Tanah Sunda
Karawang : Tak banyak yang tahu, suara merdu bambu yang menggoyang dunia itu lahir dari tanah Pasundan,(Jawa Barat,red) (12/10/26)
![]() |
| Angklung Pasundan bukan sekadar alat musik bambu, tapi warisan UNESCO yang mengajarkan filosofi gotong royong Sunda. Kenali sejarah dan jenisnya di sini. |
Angklung, alat musik tradisional Sunda yang kini diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda, bukan sekadar alat musik. Ia adalah filosofi hidup orang Sunda: harmoni, gotong royong, dan kebersamaan.
Akar dari Tanah Sunda
Jauh sebelum dikenal di panggung internasional, angklung sudah hidup di kalangan petani Sunda. Di daerah Baduy, Kanekes, Cirebon, hingga Sumedang, angklung buhun atau angklung tua digunakan dalam ritual Seren Taun sebagai ungkapan syukur atas panen padi. Bunyinya dipercaya memanggil Dewi Sri, dewi padi.
Nama Angklung sendiri berasal dari suara "klung" yang dihasilkan bambu ketika digoyangkan. Sederhana, tapi magis.
Revolusi Daeng Soetigna: Dari Ritual ke Pendidikan
Titik balik angklung terjadi di tangan tokoh legendaris Pasundan, Daeng Soetigna. Pada tahun 1938 di Kuningan, ia menciptakan angklung diatonis yang bisa memainkan nada-nada musik modern, do-re-mi-fa-sol-la-si-do.
Sejak saat itu, angklung tak lagi hanya untuk ritual. Ia masuk ke sekolah-sekolah. Dan inilah yang membuat angklung unik: tidak bisa dimainkan sendirian. Satu angklung hanya satu nada. Untuk jadi sebuah lagu, butuh puluhan orang yang saling mendengarkan dan bekerja sama.
Filosofi Sunda banget: silih asah, silih asih, silih asuh.
Jenis Angklung di Pasundan
1. Angklung Buhun: Angklung kuno dari Baduy, bentuknya besar dan hanya 2-3 nada. Sakral.
2. Angklung Gubrag: Dari Kampung Cipining, Bogor. Digunakan untuk menghormati leluhur.
3. Angklung Padaeng:Angklung modern ciptaan Daeng Soetigna yang diajarkan di sekolah.
4. Angklung Toel: Inovasi baru, cara mainnya tidak digoyang tapi ditekan (ditoel), bisa dimainkan 1 orang.
Dari Saung Angklung Udjo Hingga UNESCO
Nama Pasundan semakin harum lewat Saung Angklung Udjo (SAU) di Bandung, yang didirikan Udjo Ngalagena dan Uum Sumiati pada 1966. Di sinilah wisatawan dari seluruh dunia belajar bermain angklung bersama dalam 30 menit dan langsung kompak.
Puncaknya, pada 16 November 2010, UNESCO resmi mengakui Angklung Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia. Dan setiap 16 November kini diperingati sebagai Hari Angklung Nasional.
Kini, angklung tak hanya hidup di Jawa Barat. Ia sudah dimainkan di Gedung Putih Amerika, di markas UNESCO Paris, bahkan di festival-festival Eropa. Tapi akarnya tetap di sini, di Pasundan.
Lebih dari Sekadar Musik
Bagi orang Sunda, angklung mengajarkan satu hal penting: keindahan tidak lahir dari satu orang yang hebat, tapi dari banyak orang yang mau bekerjasama.
Seperti padi di sawah Batujaya yang tumbuh bersama, seperti bambu-bambu angklung yang bergetar bersama, begitulah orang Pasundan memaknai hidup.
Kalau ke Bandung, jangan lupa mampir ke Saung Angklung Udjo sore-sore. Atau kalau di Karawang, banyak sanggar-sanggar Sunda yang masih mengajarkan angklung ke anak-anak SD. Warisan ini harus tetap hidup.(*)
