MBG: Bangkalan Uji Coba MBG Prasmanan, Siswa Lebih Antusias & Makanan Tetap Hangat - Karawang Kapan?
Bangkalan: Inovasi baru dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) muncul dari Bangkalan, Jawa Timur. Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tunjung 2, Kecamatan Burneh, melakukan uji coba penyajian MBG secara prasmanan.
Metode ini diterapkan untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus memastikan makanan yang diterima siswa tetap hangat dan segar. Hasilnya? Ratusan siswa antusias mengantre mengambil makanan sesuai porsi yang mereka inginkan.
"Alhamdulilah anak-anak sangat antusias bisa menikmati prasmanan makan bergizi gratis," ujar Mitra SPPG Tunjung 02 Burneh, Yayasan Kemala Bhayangkari, Abdul Ghafur, Rabu (8/10/2026).
Menurut Ghafur, siswa mengonsumsi makanan lebih lahap dibandingkan pembagian MBG biasa dalam ompreng. Makanan habis tak tersisa.
Penyajian prasmanan ini merupakan instruksi langsung dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono. Untuk Kabupaten Bangkalan, hanya SPPG Tunjung 2 yang menjadi percontohan. SPPG ini melayani 15 lembaga pendidikan se-Kecamatan Burneh dengan 2.350 penerima manfaat.
Metode ini juga memberikan pembelajaran karakter: siswa kelas atas belajar melayani adik-adik kelasnya saat pembagian menu.
Namun, meski respons positif, metode ini belum diterapkan berkelanjutan. SPPG masih menunggu instruksi pusat.
"Meski mendapat respons positif dari siswa, metode prasmanan belum langsung diterapkan secara berkelanjutan. Masih menunggu instruksi dari Badan Gizi Nasional (BGN). Untuk MBG hari ini kembali seperti biasa lagi," pungkas Ghafur.
Refleksi untuk Karawang Kekinian:
Ini tamparan inovasi untuk Karawang.
Karawang yang memiliki puluhan SPPG dan ribuan penerima MBG - dari Rengasdengklok hingga Telukjambe - masih berkutat dengan masalah klasik: makanan dingin saat sampai sekolah, ompreng basi, porsi tidak habis, dan antrean berantakan.
Padahal Bangkalan sudah membuktikan: dengan prasmanan, makanan tetap hangat, siswa lebih lahap, dan ada nilai edukasi gotong royong.
Jika Bangkalan dengan 2.350 siswa bisa jadi percontohan nasional, mengapa Karawang dengan APBD terbesar dan program MOTEKAR 393 yang menekankan kolaboratif dan responsif, belum berani uji coba satu SPPG saja dengan sistem prasmanan?
Jangan sampai MBG di Karawang hanya jadi proyek bagi-bagi ompreng, tapi kehilangan esensi: memastikan anak Karawang makan lahap, hangat, dan berkarakter. Karena stunting dan TPT 7,99 persen tidak akan selesai hanya dengan makanan dingin yang tidak dimakan.
BGN sudah memberi instruksi, Bangkalan sudah mencoba. Karawang kapan?(*)
