Hari ini
Cuaca 0oC
Karawang Terkini

Ironis! Jadi Kota Industri Terbesar Se-Asia Tenggara, 169 Ribu Warga Karawang Masih Miskin

KARAWANG: - Di tengah gemerlap pabrik dan perputaran uang triliunan rupiah di kawasan industri, fakta pahit harus diterima. Karawang yang dijuluki kota industri terbesar di Asia Tenggara, ternyata masih menyimpan angka kemiskinan yang besar.(11/10/26).
Ironis! Jadi Kota Industri Terbesar Se-Asia Tenggara, 169 Ribu Warga Karawang Masih Miskin

Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Karawang yang dirilis awal tahun 2025, jumlah penduduk miskin di Karawang masih mencapai *169.803 jiwa atau 7,08 persen* dari total penduduk. 457d

Angka itu memang turun dibandingkan Maret 2024 yang mencapai 187.770 jiwa atau 7,86 persen. Artinya ada pengurangan 17.970 orang miskin. Namun bagi daerah dengan APBD Rp5 triliun lebih dan ribuan pabrik raksasa, angka 169 ribu itu masih sangat besar. 9c0f

Garis Kemiskinan Naik, Hidup Makin Berat

BPS menetapkan garis kemiskinan Karawang pada Maret 2025 sebesar *Rp617.901 per kapita per bulan*, naik Rp20.556 dari tahun sebelumnya yang Rp597.345. 9c0f

Artinya, jika dalam satu keluarga ada 4 orang, pengeluaran harus di atas Rp2,4 juta per bulan baru dianggap tidak miskin. Jika di bawah itu, masuk kategori miskin karena tidak mampu memenuhi kebutuhan makanan dan non-makanan.

Fakta lebih mengerikan terlihat di Indeks Keparahan Kemiskinan (P2). Meski indeks kedalaman (P1) turun dari 1,18 menjadi 1,12, indeks keparahan justru naik dari 0,28 menjadi 0,29. Artinya, yang paling miskin semakin tertinggal jauh dari yang lain. Ketimpangan di antara orang miskin sendiri semakin lebar. 9c0f

Penyebab Kemiskinan di Karawang

BPS dan pengamat menyebut ada 4 penyebab utama:

1. Pendidikan rendah dan putus sekolah
Banyak warga sekitar industri tidak memiliki ijazah SMA/SMK sehingga tidak lolos seleksi pabrik. Lowongan ada, tapi skill tidak ada.

2. Minim lapangan kerja lokal dan PHK massal

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Karawang masih 7,99 persen pada 2025. Di tengah banyaknya pendatang pencari kerja, warga lokal kalah bersaing. Banyak yang bekerja serabutan di sektor informal yang mencapai 57 persen. 69f70b5d

3. Disparitas wilayah

Kemiskinan menumpuk di wilayah selatan seperti Tegalwaru, Pangkalan dan wilayah pesisir utara seperti Cilamaya dan Cibuaya. Sementara wilayah tengah yang ada industrinya justru kaya.

4. Jeratan bank emok dan pinjol

Karena tidak punya akses bank resmi, banyak warga terjebak bunga 20-30 persen per bulan.

Dampak Negatifnya Sangat Nyata

Kemiskinan ini bukan hanya soal tidak punya uang, tapi merembet kemana-mana:

- Anak putus sekolah karena harus membantu orang tua jualan
- Kasus stunting dan gizi buruk masih tinggi di pesisir
- Angka kriminalitas ringan meningkat, pencurian dan penipuan online
- Rumah tangga berantakan, KDRT karena tekanan ekonomi, hingga ada istri yang terpaksa jual diri lewat MiChat untuk bayar utang emok
- Warga terpaksa tinggal di rumah tidak layak huni di bantaran sungai

Anggota Komisi VII DPR RI bahkan menyoroti ironi ini saat kunjungan ke Karawang. "Ini sebuah ironi, di tengah perputaran uang triliunan rupiah, tapi warga yang sangat miskin juga banyak," ujarnya. 897c

Jika CSR perusahaan hanya bagi-bagi minyak goreng saat Lebaran tanpa menyekolahkan anak sekitar pabrik, maka angka 169 ribu itu akan tetap ada 10 tahun lagi.(*)

Hide Ads Show Ads