Bonsai Seharga Motor! Desa di Inhil Sukses Gelar Kontes, Karawang Masih Sepi
KARAWANG: Sebuah desa kecil di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, berhasil bikin heboh pehobi bonsai se-Sumatra. Sementara Karawang yang punya APBD triliunan dan ribuan perusahaan, belum pernah menggelar pameran bonsai berskala besar yang melibatkan peserta luar daerah.
Adalah Desa Kota Baru Seberida, Inhil, Riau. Selama tiga hari, desa ini jadi pusat perhatian penggemar tanaman hias dari berbagai daerah. Ratusan bonsai dengan beragam bentuk dan karakter dipamerkan. Pesertanya datang dari Pekanbaru, Jambi, Indragiri Hulu, Perawang, hingga Batam. Juara utama bahkan diraih peserta asal Batam.
Kegiatan ini bukan hanya soal lomba, tapi jadi ajang silaturahmi, berbagi ilmu perawatan, pembentukan, dan pengembangan bonsai bernilai jutaan rupiah.
Kepala Desa Kota Baru Seberida, Muslim Ridar, mengatakan pemerintah desa sangat mendukung penuh kegiatan ini. Ia bahkan mendorong agar kontes bonsai dijadikan agenda tahunan.
"Atas nama Pemerintah Desa Kota Baru Seberida, kami sangat mendukung penuh kegiatan positif ini. Harapan kami, pameran dan kontes bonsai ini dapat disepakati bersama untuk dijadikan agenda rutin tahunan, karena selain mendukung kreativitas, acara ini juga membawa dampak positif bagi ekonomi dan masyarakat lokal," ujar Muslim Ridar.
Dampaknya nyata. Kehadiran peserta luar daerah menggerakkan ekonomi lokal, warung makan laris, penginapan penuh, dan nama desa semakin dikenal.
Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Jambi, Hendra, juga mengapresiasi. Menurutnya, kontes di desa kecil ini bisa jadi pemicu agar kualitas bonsai Inhil bisa bersaing secara nasional.
Lalu bagaimana dengan Karawang?
Karawang punya 30 kecamatan, punya komunitas bonsai di Telukjambe, Klari, Rengasdengklok, tapi belum ada satu pun desa yang berani menggelar kontes bonsai terbuka yang mengundang peserta dari Jakarta, Bandung, Cirebon, hingga Batam.
Padahal potensinya besar. Jika Desa Kota Baru Seberida yang jauh di pesisir Riau saja bisa, kenapa desa-desa di Karawang seperti di pedalaman Tegalwaru, di pesisir Cilamaya, atau di sekitar Cikampek tidak bisa?
Jika Karawang mau belajar dari Inhil, kontes bonsai bisa jadi solusi mengentaskan 169 ribu warga miskin versi BPS 2025. Satu bonsai berkualitas bisa dijual puluhan juta rupiah. Ini ekonomi kreatif yang tidak bergantung pada pabrik.
Pertanyaannya, berani tidak Pemdes di Karawang dan Dinas Pertanian Karawang meniru Desa Kota Baru Seberida dan menggelar Kontes Bonsai Karawang Berskala Nasional? (*)
