Pesta Hajat Bumi Di Citalaksana Karawang, Ini Maknanya
Karawang : Matahari belum terlalu tinggi ketika warga Kampung Calingcing, Desa Cintalaksana, Kecamatan Tegalwaru, mulai memadati pendopo desa, Sabtu lalu (11/7/2026).
Dengan pakaian adat dan senyum yang mengembang, mereka berkumpul dalam satu tujuan yang sama: menjaga tradisi Hajat Bumi, warisan leluhur yang terus hidup di tengah derasnya arus modernisasi.(16/7/26).
Hajat Bumi bukan sekadar seremoni tahunan. Tradisi ini adalah ungkapan syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil panen dan rezeki yang diberikan selama setahun terakhir. Sebuah budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi dan hingga kini masih menjadi bagian penting dari identitas warga Cintalaksana.
Rangkaian acaranya pun sarat makna. Dimulai dengan ritual doa bersama, dilanjutkan lomba permainan tradisional, pertunjukan pencak silat, pagelaran topeng, hingga pementasan wayang yang digelar pada malam hari. Setiap kegiatan menjadi ruang berkumpulnya seluruh lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga para sesepuh desa.
Kepala Desa Cintalaksana, Agus Sulaeman, mengatakan Hajat Bumi selalu diselenggarakan setiap hari Sabtu di bulan Muharam sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas berkah hasil bumi.
“Tradisi ini sudah diwariskan oleh para leluhur kami. Intinya adalah doa bersama sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas panen dan rezeki yang diberikan kepada masyarakat. Kami ingin budaya ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya,” ujar Agus.
Agus juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan menyukseskan penyelenggaraan Hajat Bumi, khususnya masyarakat Kampung Calingcing yang bergotong royong sejak persiapan hingga acara selesai.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat, khususnya warga Kampung Calingcing, para tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, panitia, Pokdarwis, Pemerintah Kabupaten Karawang, Pemerintah Kecamatan Tegalwaru, serta semua pihak, termasuk para mitra dan perusahaan yang telah mendukung sehingga Hajat Bumi tahun ini dapat berjalan dengan aman, lancar, dan meriah. Semoga kebersamaan ini terus terjaga dan menjadi semangat untuk melestarikan budaya warisan leluhur,” ucapnya.
Perjuangan Mengangkat Desa Lewat Warisan Budaya
Di balik kemeriahan itu, tersimpan perjalanan panjang Desa Cintalaksana membangun diri sebagai desa wisata berbasis budaya. Perjalanan tersebut tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan adat istiadat serta hasil bumi lokal, seperti terubuk yang kini dikenal sebagai salah satu ikon Kabupaten Karawang.
Namun, membangun desa wisata bukan pekerjaan mudah. Kesadaran masyarakat untuk melihat potensi desanya sendiri menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Cintalaksana, Ki Inong, masih mengingat bagaimana dahulu tradisi Hajat Bumi digelar hampir di setiap kampung di desa tersebut. Seiring perkembangan zaman, pelaksanaannya kini dilakukan secara mandiri oleh masing-masing kampung.
“Dulu hampir semua kampung mengadakan Hajat Bumi. Sekarang memang dilaksanakan sendiri-sendiri, tetapi semangat menjaga tradisi itu tidak pernah hilang,” kata Ki Inong.
Ia bersama rekan-rekan Pokdarwis kemudian menggandeng pemerintah desa untuk memastikan tradisi itu tidak berhenti sebagai ritual tahunan, melainkan menjadi kekuatan yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata.
Perjalanan itu tidak selalu mulus. Menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap potensi desanya membutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran. Menurut Ki Inong, hanya sedikit orang yang pada awalnya benar-benar percaya bahwa budaya lokal bisa menjadi kekuatan ekonomi.
Sedikit demi sedikit, perjuangan tersebut mulai menunjukkan hasil. Dukungan datang dari tokoh masyarakat, pemerintah desa, hingga sektor swasta. Desa Cintalaksana kini semakin dikenal sebagai salah satu desa wisata di Karawang yang tetap mempertahankan kearifan lokalnya.
Saat Kolaborasi Menghidupkan Potensi Desa Wisata
Salah satu bentuk dukungan nyata datang dari PT Pupuk Kujang Cikampek melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Perusahaan tersebut membantu pengembangan desa wisata melalui penyediaan bibit, penataan lahan, pembangunan gapura, hingga pendopo yang kini menjadi pusat berbagai kegiatan budaya, termasuk Hajat Bumi.
Bagi Ki Inong, dukungan pemerintah tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk anggaran.
“Regulasi yang berpihak, pendampingan, bahkan sekadar kehadiran pemerintah saat kegiatan berlangsung sudah menjadi penyemangat bagi masyarakat. Itu membuat kami merasa perjuangan ini dihargai,” tuturnya.
Ia berharap semakin banyak desa wisata di Karawang yang mendapat perhatian sehingga mampu berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa kehilangan akar budayanya.
Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat, Hajat Bumi di Kampung Calingcing menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus tradisi.
Justru dari budaya yang tetap terjaga, sebuah desa dapat menemukan identitasnya, menarik wisatawan, sekaligus membuka jalan menuju kesejahteraan masyarakat.(*)
