Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Sekilas Sejarah Masjid Jami Pangkalpinang, Ikon Persatuan Warga Bangka

Pangkalpinang: Masjid Jami' Pangkalpinang berdiri megah di pusat ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejak 1936. Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol kebersamaan warga Bangka.
Masjid Jami' Pangkalpinang berdiri megah di pusat ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejak 1936

Bangunan bersejarah tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Masjid Jami’ dibangun secara swadaya oleh warga eksodus dari Kampung Dalam dan Kampung Tengah Tua Tunu. Pada masa awal, bangunannya masih semipermanen dengan dinding papan.

Ketua Pengurus Masjid Jami’ Pangkalpinang, M. Azro’i Kosim, memaparkan sejarah pembangunan masjid tersebut.

“Bangunan aslinya dirancang memiliki tiga tingkatan, di mana bagian bawah difungsikan untuk kegiatan salat berjamaah dan pengajian, sementara bagian atas dimanfaatkan sebagai menara tempat muazin mengumandangkan azan. Jika dilihat dari udara, struktur bangunan awal ini menyerupai bentuk piramida,” terang M. Azro’i Kosim, dikutip Kamis, 19 Februari 2026.

Renovasi besar dilakukan dalam dua periode. Tahap pertama berlangsung pada 1950 hingga 1954 dengan pendanaan hasil partisipasi dan gotong royong masyarakat Bangka. Pada masa itu, Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, Mohammad Hatta, turut menyumbangkan dana pribadi sebesar seribu rupiah.

Penyempurnaan bangunan berlanjut pada 1961 hingga 1962. Pembangunan menara utama setinggi 23 meter menjadi penanda rampungnya renovasi masjid menjadi bangunan permanen.

Selain nilai sejarah, arsitektur Masjid Jami’ Pangkalpinang mengandung makna filosofis Islam. Enam tiang di tangga depan melambangkan Rukun Iman. Empat tiang utama di dalam masjid merepresentasikan Khulafaur Rasyidin. Lima pintu masuk menyimbolkan Rukun Islam. Atap bertingkat tiga dengan satu kubah utama memperkuat karakter bangunan bersejarah tersebut.

Hingga kini, Masjid Jami’ Pangkalpinang tetap menjadi pusat peribadatan dan pendidikan keagamaan. Keberadaannya menjadi pengingat kuatnya persatuan dan semangat gotong royong masyarakat Bangka dalam membangun kehidupan beragama di Tanah Serumpun Sebalai.(*)

Hide Ads Show Ads