Begini Hukum Tradisi Mandi Pangir Menjelang Ramadan
Jakarta : Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Sumatra Utara masih melestarikan tradisi mandi pangir atau marpangir. Tradisi ini menjadi bagian dari rangkaian penyambutan Ramadan yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.
![]() |
| Seorang selebtok sedang mencontohkan mandi marpangir di pinggir sungai. (Foto: TikTok/@fahrit_mufama_cetar) |
Bahan-bagan yang digunakan dalam marpangir cukup beragam. Di antaranya daun sereh wangi, daun jeruk purut, daun pandan, daun nilam, mayang pinang, akar usar, akar sitanggis, serta jeruk purut.
Proses pencarian bahan tersebut pada masa lalu dilakukan secara bersama-sama oleh anggota keluarga. Demikian disebutkan dalam penelitian berjudul "Ziarah Kubur, Marpangir, Mangan Fajar: Tradisi Masyarakat Angkola dan Mandailing Menyambut Bulan Ramadhan dan 'Idulfitri".
Lantas bagaimana asal usul tradisi marpanggir dalam masyarakat Sumatra Utara? Berikut adalah penjelasannya.
Tradisi marpangir merupakan warisan nenek moyang suku Angkola dan Mandailing yang pada awalnya berfungsi sebagai pengganti sabun. Semua bahan dicampur dan direbus bersama air, lalu digunakan untuk mandi seluruh anggota keluarga sebelum Ramadan tiba.
Dalam perkembangannya, paket pangir kini lebih mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional dengan harga yang relatif terjangkau. Komposisinya pun bisa bervariasi, namun umumnya terdiri dari:
1. Daun pandan
2. Serai
3. Bunga mawar
4. Kenanga
5. Jeruk purut
6. Daun limau
7. Akar wangi
8. dan bunga pinang
Beberapa masyarakat bahkan menambahkan akar kautsar dan embelu sebagai pelengkap wewangian alami. Secara spiritual, mandi pangir diyakini dapat membantu meningkatkan kekhusyukan dalam menjalankan ibadah puasa.
Dengan membersihkan diri secara fisik, masyarakat berharap hati dan pikiran ikut menjadi lebih bersih. Serta siap menyambut Ramadan dengan semangat baru.
Rasa segar setelah mandi pangir juga dianggap memberi dorongan psikologis untuk memulai ibadah puasa keesokan harinya. Dalam kajian aqidah Islam, muncul anggapan bahwa mandi pangir mengadopsi budaya Hindu kuno.
Namun, dalam penilaian akidah, tolok ukur utama bukanlah asal-usul tradisi, melainkan dampaknya terhadap keyakinan seseorang. Hal ini sejalan dengan penjelasan dalam kitab Sullamut Taufiq karya Habib 'Abdullah bin Husain bin Thahir al-'Alawi al-Hadhrami.
Berdasarkan kajian tersebut, Ustadz Sugiantonmengatakan tidak ditemukan unsur yang dapat menggugurkan keimanan dalam praktik mandi pangir. Tradisi ini tidak mengandung ucapan kufur, tidak ada unsur penyembahan kepada makhluk, serta tidak menunjukkan tindakan menyerupai ibadah agama lain.
Dari sisi keyakinan, mayoritas masyarakat menjalankan mandi pangir semata-mata untuk membersihkan tubuh. Dan memberi keharuman alami, dan membangkitkan semangat beribadah(*).
