Lebih dari 250.000 Warga Yaman Mengungsi, UNHCR dan UNICEF Peringatkan Krisis Kemanusiaan di Taiz
Genewa: Lebih dari 250.000 warga sipil terpaksa meninggalkan kediaman mereka di Yaman sejak eskalasi konflik kembali memuncak pada Juli lalu. Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) melaporkan bahwa pertempuran sengit antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah yang didukung koalisi internasional terus meluas di sejumlah titik strategis.
Kota Taiz di bagian barat daya Yaman menjadi pusat dari gelombang pengungsian tersebut. Menurut data resmi UNHCR, kawasan ini menyumbang 76 persen dari total warga yang berpindah tempat sekaligus menampung lebih dari separuh pengungsi baru. Wilayah lain seperti Lahij dan Aden turut mencatat lonjakan penampungan warga terdampak.
Serangan artileri di pemukiman padat dan fasilitas kesehatan dilaporkan semakin intensif. Penutupan jalur logistik utama oleh kelompok Houthi sejak awal Oktober juga memperburuk hambatan distribusi bantuan kemanusiaan ke wilayah terdampak.
"Kebutuhan paling mendesak yang teridentifikasi saat ini mencakup tempat bernaung, bahan pangan, serta bantuan tunai serbaguna," ujar Juru Bicara UNHCR, Matthew Saltmarsh, dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss, Senin, 19 Oktober 2026. Saltmarsh menambahkan bahwa sekitar 33.700 keluarga masih membutuhkan bantuan tempat tinggal darurat di tengah keterbatasan dana operasional kemanusiaan.
Di saat yang sama, Badan Anak-Anak PBB (UNICEF) memperingatkan ancaman kelangkaan air bersih bagi sekitar tiga juta jiwa di Taiz akibat kehancuran infrastruktur dan krisis bahan bakar.
"Sebagai salah satu wilayah paling kering di Yaman, Taiz kini menghadapi tekanan luar biasa terhadap layanan dasar bagi ribuan keluarga pengungsi," kata Perwakilan UNICEF untuk Yaman, Akhil Iyer.
Situasi keamanan semakin memburuk menyusul serangan rudal balistik kelompok Houthi yang menghantam pusat pelatihan militer di Gubernur Shabwa, yang menewaskan sedikitnya 58 orang. Pemerintah Yaman menyebut lokasi tersebut berada di luar garis depan pertempuran, sementara pihak Houthi mengklaim sasaran tersebut merupakan basis pasukan koalisi.
Sebagai respons atas meningkatnya intensitas serangan lintas batas, Juru Bicara Koalisi, Turki al-Maliki, menyatakan bahwa pihaknya telah menghancurkan 127 gudang senjata dan peluncur rudal milik Houthi.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Inggris mengonfirmasi pengerjaan jet tempur Typhoon untuk misi pertahanan udara guna melindungi wilayah Arab Saudi dari ancaman rudal balistik.
Konflik Yaman kembali memanas sejak Juli lalu setelah kelompok Houthi memblokade sejumlah pelabuhan utama dan merebut wilayah strategis di pesisir Laut Merah. Pasukan pemerintah merespons dengan melancarkan operasi balasan guna merebut kembali kawasan yang dikuasai pihak oposisi sejak 2014. (KK)
