Dunia Bereaksi Atas Wafatnya Ali Khamenei
Brussel ; Serangan udara AS-Israel dan kepergian Pemimpin Tertinggi Iran memicu pembelahan sikap diplomatik global
Komunitas internasional kini berada dalam fase kewaspadaan tinggi menyusul konfirmasi wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Kabar ini muncul di tengah laporan operasi militer besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel yang menyasar Teheran, memicu gelombang reaksi yang berkisar dari dukungan terbuka hingga kecaman keras atas risiko perang regional yang meluas.
Media pemerintah Iran pada Minggu 1 Maret 2026 pagi waktu setempat telah memverifikasi meninggalnya pemimpin berusia 86 tahun tersebut.
Meskipun penyebab pastinya tidak dirinci secara eksplisit dalam hubungannya dengan serangan udara di kediamannya, insiden ini telah memaksa Dewan Keamanan PBB untuk segera menggelar pertemuan darurat.
Polarisasi Kekuatan Besar
Sikap dunia terbelah tajam dalam merespons eskalasi ini.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa peristiwa ini merupakan peluang bersejarah bagi rakyat Iran untuk menentukan masa depan mereka.
Senada dengan itu, Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan pemerintah Australia memberikan dukungan terhadap tindakan militer tersebut, dengan menyebut Teheran sebagai sumber utama ketidakstabilan di Timur Tengah.
Namun, nada berbeda datang dari Moskow dan Beijing.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut serangan tersebut sebagai "agresi bersenjata yang tidak diprovokasi" terhadap negara berdaulat.
Sementara itu, China mendesak penghentian segera aksi militer dan penghormatan terhadap integritas wilayah Iran guna menghindari bencana kemanusiaan yang lebih besar.
Eropa dan Timur Tengah: Diplomasi di Atas Tali
Di Eropa, para pemimpin utama seperti Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz mengambil posisi yang lebih berhati-hati.
Dalam pernyataan bersama, ketiganya menegaskan tidak terlibat dalam serangan tersebut dan mendesak semua pihak untuk kembali ke meja perundingan.
"Kami mengutuk serangan Iran terhadap negara-negara di kawasan, namun kami juga meyakini bahwa stabilitas jangka panjang tidak dapat dicapai hanya melalui kekuatan militer," ungkap Presiden Macron dalam pertemuan keamanan darurat di Paris.
Di kawasan Timur Tengah, ketegangan terasa sangat nyata.
Liga Arab mengecam keras serangan balasan Iran yang menyasar pangkalan militer di Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan yang nyata.
Arab Saudi pun mengeluarkan pernyataan tegas yang mengutuk agresi tersebut demi menjaga keamanan regional.
Kekhawatiran Perang Terbuka
Di luar lingkaran pemerintahan, organisasi kemanusiaan dan pengamat perdamaian menyatakan keprihatinan mendalam.
International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN) memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas di Iran sangat berisiko memicu proliferasi nuklir.
Menteri Luar Negeri Norwegia, Espen Barth Eide, merangkum kegelisahan global dengan menyatakan kekhawatirannya akan kegagalan diplomasi yang dapat berujung pada "Perang baru yang ekstensif dan merusak" di seluruh wilayah Timur Tengah seperti dikutip AFP News.
Wafatnya Ali Khamenei, yang memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade tanpa ahli waris politik yang jelas, kini meninggalkan tanda tanya besar: apakah ini awal dari perubahan demokratis, atau justru pintu menuju konflik bersenjata yang tak terkendali(*).

