Hari ini
Cuaca 0oC
BREAKING NEWS

Promosi Wisata, DPR Minta Contoh Singapura dan Turki

Jakarta : Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty menegaskan, pentingnya promosi wisata Banten di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang. Menurutnya, pemerintah daerah dan InJourney bisa mencontoh strategi promosi wisata yang diterapkan Singapura dan Turki. 

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty (Foto: Humas DPR RI)

Strategi wisata Singapura dan Turki itu, politikus PDIP ini menjelaskan, penumpang transit diberikan fasilitas tur kota gratis. Fasilitas tersebut, guna mengenalkan potensi pariwisata di negaranya masing-masing. 

"Seperti kita ke Singapura, kalau punya waktu enam jam, kita bisa keluar untuk free tour. Begitulah negara-negara lain mempromosikan pariwisatanya, Banten yang sangat dekat dan memiliki bandara harusnya bisa melakukan hal serupa," kata Evita dalam keterangan persnya, di Jakarta, Minggu, 18 Januari 2026. 

Sejauh ini, Evita menilai, minimnya materi promosi wisata Banten di Bandara Soetta. Evita menyarankan, pemerintah daerah dan pengelola bandara memanfaatkan teknologi digital. 

"Manfaatkan videotron atau layar LCD besar, menampilkan video singkat berdurasi tiga menit, mengenai destinasi wisata unggulan Banten. Banten ini punya bandara, tapi kalau kita masuk ke sana tidak ada promosi Banten," ucap Evita. 

Oleh sebab itu, Evita meyakini, strategi ini efektif untuk menarik minat wisatawan mancanegara. Terutama, para wisatawan yang sedang transit dalam waktu lama di Bandara Soetta. 

"Sehingga kalau turis asing datang dan punya waktu transit yang cukup lama, misalnya pesawatnya baru berangkat malam. Mereka bisa diarahkan untuk tur jarak dekat ke destinasi wisata di Banten," ujar Evita. 

Diketahui, Komisi VII DPR RI telah melakukan Kunjungan Kerja Spesifik ke InJourney Kamis, 15 Januari 2026. Dalam kunjungan tersebut, Komisi VII DPR membahas konsep Smart Airport dan Smart Logistic sebagai tulang punggung pariwisata modern. 

Sebelumnya, Wagub Banten, Achmad Dimyati Natakusumah mengapresiasi, kunjungan dan rekomendasi Komisi VII DPR RI. Ia menilai, masukan ini penting untuk menginventarisasi masalah dan solusi dalam pengembangan pariwisata daerah. 

Dimyati menekankan, sebelum promosi digencarkan, pembenahan tata ruang menjadi hal krusial. Ia sepakat, kawasan pariwisata harus steril dari polusi industri agar layak dijual kepada wisatawan asing. 

"Kawasan wisata harus ramah lingkungan. Wisatawan, apalagi orang asing, tidak mau jika ada polusi, asap, atau limbah. Maka harus jelas mana kawasan industri, mana permukiman, dan mana wisata," kata Dimyati.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads