Hari ini
Cuaca 0oC
BREAKING NEWS

Cuaca Ekstrem Hantam 350 Pesisir, 95 Persen Nelayan Terdampak

Jakarta :  Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) mencatat 95 persen nelayan terdampak cuaca ekstrem. Dampak tersebut terjadi di lebih dari 350 wilayah pesisir di Indonesia.
Ilustrasi nelayan tradisional sedang menebar jala di laut (Foto: Pexels/Ist)

Sekjen KNTI, Niko Amrullah mengatakan data itu berdasarkan survei cepat. Survei dilakukan pada 23 hingga 24 Januari 2026.

“Beberapa hal karena kondisi di lapangan adalah terdapat sekitar 30 lebih insiden laporan kesalahan laut. Mulai perahu atau sampan, lalu alat tangkap yang rusak,“ kata Niko, Minggu 25 Januari 2026.

Tidak hanya merusak perahu dan alat tangkap, cuaca ekstrem juga merusak infrastruktur pesisir. Seperti, tanggul jebol, dan permukiman nelayan dilaporkan terendam akibat banjir rob.

Akibatnya berdampak langsung pada pendapatan nelayan tradisional. Pendapatan normal nelayan yang mulanya berkisar Rp400 ribu hingga Rp600 ribu per hari.

Dalam kondisi cuaca ekstrem, pendapatan nelayan bisa turun hingga Rp200 ribu per hari. Penurunan pendapatan ini berlangsung setidaknya selama satu pekan.

“Kalau kita estimasi kasar dengan situasi cuaca hari ini yang bisa kita lihat ya, secara kasat mata itu lebih ekstrem dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jadi kan pendapatannya lebih turun lagi dibanding prediksi reguler tadi,” ucapnya.

Survei KNTI juga mencatat 37 persen nelayan tetap pergi melaut meski cuaca tidak bersahabat. Hal tersebut dilakukan demi memenuhi kebutuhan keluarga.

“Meskipun ada informasi kurang kondusif perairan, tapi ya itu tadi karena kebutuhan rumah, kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Artinya tanda kutip mereka nekat,” ujarnya.

Sementara itu, Mantan Anggota Komisi IV DPR RI, Muhammad Syarifudin menilai nelayan kerap berada dalam posisi sulit. Menurutnya, kondisi cuaca ekstrem bukan persoalan baru dan terus berulang setiap tahun.

Dia menilai negara perlu hadir memberikan perlindungan bagi nelayan d kondisi seperti ini. “Nelayan tidak bisa dipaksa memilih antara keselamatan dan kebutuhan ekonomi,” kata Syarifudin.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads