Iklan - Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Jangan Langsung Percaya Berita Viral, Ini Cara Fact-Checking Mandiri ala DW

JATINANGOR – Maraknya disinformasi dan semakin berkembangnya teknologi buatan (AI), menjadi peringatan bagi masyarakat dalam mengkonsumsi berita-berita yang tersebar di dunia maya agar tidak termakan dengan berita palsu.

DW Ajak Mahasiswa Unpad Cek Fakta Mandiri di Era AI dan Disinformasi

Deutsche Welle (DW) Indonesia membagikan beberapa peralatan yang dapat digunakan untuk mengecek kebenaran berita yang tersebar luas pada kegiatan DW Goes To Campus (DWGS), Rabu (4/11), di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran.

“Literasi media, konten, dan pelatihan juga merupakan sesuatu yang sangat kami yakini karena ini adalah bagian lain dari pekerjaan kami. Kami ingin menawarkan debunking dan fact-checking kepada audiens, tetapi kami juga ingin memberdayakan mereka untuk melakukan fact-checking sendiri dan menawarkan kepada mereka keterampilan dan teknologi yang kami gunakan agar mereka tidak terjebak oleh disinformasi,” ujar Joscha Weber, Head of DW Fact-checking.

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melakukan fact-check secara mandiri, sebagai berikut:

*Cermati Karakteristik yang Berbeda*

Hal ini cukup penting untuk diperhatikan dalam memilah mana konten AI dan disinformasi dengan berita sebenarnya sebab pada beberapa konten AI dan disinformasi sering kali ditemukan kejanggalan yang tidak sempurna.

Vidi Athena, Pimpinan DW Indonesia, menyatakan untuk mengetahui penggunaan AI maka diperlukan pula bantuan AI untuk mendeteksi kebenarannya.

Melalui bantuan pendeteksi AI, kita dapat memastikan terlebih dahulu persentase konten AI yang ada di dalamnya. Setelah itu, juga dapat menggunakan bantuan Google Lens untuk mengetahui seberapa banyak konten tersebut telah tersebar luas.

*Ketepatan Pendeteksi AI*

Sebagai teknologi buatan, AI juga tidak sepenuhnya dapat diandalkan sebab terdapat limit pada pemakaiannya, sehingga sering kali keakuratannya perlu dicek kembali.

Untuk pemeriksaan kedua kali, diperlukan penalaran manusia melalui pencocokan dengan keberadaan yang sebenarnya, seperti cara berbicara, kebiasaan berperilaku, dan sebagainya.

Tak sampai di situ, diperlukan juga mengetahui lokasi sebenarnya, menggunakan bantuan Google Maps atau Google Earth. Melalui bantuan teknologi ini, kita dapat mengetahui apakah lokasi yang digunakan benar-benar ada atau tidak.

*Pengumpulan Data yang Benar*

Setelah mengetahui bahwa konten tersebut nyata, maka diperlukan pengecekan data. Hal ini diperlukan untuk mengetahui apakah data yang ada sesuai dengan konteks pada gambar atau video.

Pengecekan data ini dapat melalui tayangan berita yang disiarkan oleh lembaga-lembaga yang terverifikasi kredibilitasnya. Namun, dalam hal ini pula perlu diperhatikan apakah situsnya sesuai atau hanya mencantumkan logo lembaga tersebut sebab peristiwa berikut termasuk pada media spoofing atau pemalsuan media besar.

Fact-checking mandiri ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memilah sebelum mengonsumsi berita yang tengah viral, mari lebih bijak dalam menggunakan sosial media di era AI.(SD)
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Jangan Langsung Percaya Berita Viral, Ini Cara Fact-Checking Mandiri ala DW
  • Jangan Langsung Percaya Berita Viral, Ini Cara Fact-Checking Mandiri ala DW
  • Jangan Langsung Percaya Berita Viral, Ini Cara Fact-Checking Mandiri ala DW
  • Jangan Langsung Percaya Berita Viral, Ini Cara Fact-Checking Mandiri ala DW
  • Jangan Langsung Percaya Berita Viral, Ini Cara Fact-Checking Mandiri ala DW
  • Jangan Langsung Percaya Berita Viral, Ini Cara Fact-Checking Mandiri ala DW

Posting Komentar