Sarjana Jadi Pengangguran Terbanyak, Pemagangan Nasional Ditawarkan Jadi Jembatan Kerja - Karawang Perlu Tiru?
Surabaya ; Lulus sarjana tak lagi jaminan langsung kerja. Data terbaru justru menunjukkan pengangguran sarjana menjadi yang tertinggi, baik di Jawa Timur maupun secara nasional.
Berdasarkan data Pemprov Jatim melalui Biro Organisasi Jatim, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan sarjana pada Februari 2026 mencapai *6,04%*. Angka itu naik dari 5,60% (Feb 2025) dan 4,07% (Feb 2024). Posisi sarjana bahkan mengalahkan lulusan SMA (5,75%) dan SMK (5,73%).
Tren nasional pun serupa. Data Sakernas mencatat, pada Mei 2026 ada *1.033.182 penganggur* yang merupakan lulusan perguruan tinggi (D4, S1, S2, S3) atau setara 14,31% dari total 7,22 juta penganggur di Indonesia. Jumlah itu melonjak dari 674 ribu (7,98%) pada Agustus 2022 dan 843 ribu (11,28%) pada Agustus 2024.
Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto menyebut ini sebagai PR bersama.
"Ini jadi PR kita semua. Pengangguran terbesar sekarang lulusan S1 di Jawa Timur. Angkanya cukup tinggi," ujarnya saat coaching clinic pemagangan nasional di Graha Kadin Jatim, Senin (12/10/2026).
Pemagangan Nasional Jadi Solusi
Kepala BLK Sidoarjo Kemenaker Muhammad Aiza Akbar mengatakan, program Pemagangan Nasional dirancang untuk menjembatani mismatch antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri. Program ini terbuka bagi lulusan D4/S1 maksimal 1 tahun terakhir.
Pada 2026, pemerintah menargetkan *150.000 peserta* secara nasional, naik dari 100.000 tahun lalu. Peserta akan mendapat uang saku setara UMK dari APBN plus perlindungan BPJS Ketenagakerjaan. Perusahaan wajib menyediakan mentor selama 6 bulan.
Syarat perusahaan jadi mitra: terdaftar Wajib Lapor Ketenagakerjaan Perusahaan (WLKP) dan mendaftar via platform resmi pemerintah.
"Minimal adik-adik kita benar-benar punya pengalaman bagaimana bekerja di perusahaan. Selama ini, hal-hal seperti itu belum tentu didapatkan di bangku kuliah," kata Aiza.
Relevansi untuk Karawang
Sebagai kabupaten industri terbesar di Jawa Barat, Karawang menghadapi tantangan serupa. Banyaknya lulusan baru tiap tahun tidak selalu sejalan dengan penyerapan industri, apalagi jika kompetensi tidak sesuai.
Kadin Jatim sendiri mendorong Kadin di kawasan industri seperti Surabaya, Pasuruan, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto untuk sosialisasi. Pola serupa sangat relevan diterapkan di Karawang, Cikarang, dan Bekasi.
Jika pemagangan diterapkan konsisten, industri di Karawang bisa melakukan regenerasi hingga ratusan tenaga kerja per tahun sekaligus menyiapkan calon pekerja tetap.(*)

