Ledakan Kembali Guncang Teheran, Aliran Listrik Terputus Total
Teheran; Serangan udara beruntun memicu pemadaman listrik dan krisis kemanusiaan di Teheran.
Warga di ibu kota Iran dan kota sekitarnya, Karaj, melaporkan kondisi yang kian mencekam setelah 10 hari rentetan serangan udara yang melibatkan kekuatan militer Israel dan Amerika Serikat.
Laporan yang dihimpun dari penduduk setempat menggambarkan situasi kota yang diliputi dentuman ledakan setiap beberapa jam, pemadaman listrik, serta kelelahan fisik dan mental yang mendalam.
Militer Israel mengonfirmasi pada Selasa, 10 maret 2026 pagi bahwa mereka telah meluncurkan "gelombang serangan luas" yang menargetkan situs-situs strategis di Teheran.
Sasaran tersebut mencakup kompleks bawah tanah Korps Garda Revolusi (IRGC) yang digunakan untuk riset senjata, markas besar Pasukan Quds, serta fasilitas produksi pertahanan lainnya.
Kehidupan di Bawah Bayang-bayang Ledakan
Di tengah pembatasan akses bagi jurnalis asing, kesaksian warga yang berhasil dihimpun oleh BBC Persian memberikan gambaran nyata mengenai dampak konflik ini terhadap warga sipil.
"Saya berada dalam kegelapan total semalam," ujar seorang pria berusia 30-an asal Teheran. Ia melaporkan bahwa pemadaman listrik terjadi secara fluktuatif di berbagai titik di ibu kota, menambah ketidakpastian di tengah suara ledakan yang terus menyalak.
Seorang pemuda berusia 20-an mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap situasi yang kian mendekat ke pemukiman warga.
"Saya merasa mengerikan. Mereka menghantam jalan di dekat kami hari ini. Saya hanya ingin bisa tidur malam ini," tuturnya. Ia menambahkan bahwa setiap hari, titik jatuhnya rudal terasa semakin dekat.
Data Korban dan Dampak Infrastruktur
Berdasarkan laporan dari organisasi Human Rights Activists in Iran (HRANA) yang berbasis di AS, dampak kemanusiaan dari konflik ini sangat signifikan. Hingga Senin, tercatat sebanyak 1.761 orang tewas di Iran sejak perang meletus, dengan sedikitnya 1.245 di antaranya adalah warga sipil, termasuk 194 anak-anak.
Meskipun militer Israel menyatakan serangan difokuskan pada infrastruktur militer dan riset senjata, kerusakan pada area sipil mulai terlihat.
"Semua yang bisa Anda lihat di rumah kami hanyalah retakan di dinding. Tidur menjadi hal tersulit bagi saya," ungkap seorang warga Teheran lainnya.
Dilema dan Harapan di Tengah Krisis
Di tengah penderitaan tersebut, muncul polarisasi sikap di kalangan masyarakat. Di satu sisi, banyak warga yang merasa jenuh dan trauma.
Seorang pria di Karaj menyatakan, "Seluruh perang ini sangat menyesakkan. Skenario masa depan bagi rakyat Iran sungguh menakutkan."
Namun, di sisi lain, terdapat warga yang memandang krisis ini sebagai titik balik politik. Seorang pemilik restoran di Karaj berusia 50-an mengatakan bahwa meskipun maut terasa sangat dekat, ia tetap bertahan. "Kami berdiri teguh hingga akhir untuk bertahan hidup dan menjadi bebas," cetusnya.
Konflik ini merupakan eskalasi dari serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu, yang memicu aksi balasan rudal dan pesawat tak berawak dari pihak Iran terhadap target-target di Timur Tengah.
Hingga saat ini, konektivitas internet di Iran masih dibatasi secara ketat oleh otoritas setempat, mempersulit aliran informasi dari dalam negeri ke dunia internasional.(*)

