Harga Barang Yaman Melonjak Akibat Konflik
Yaman; Kenaikan biaya risiko perang mengancam krisis pangan di tengah ketegangan regional.
Sektor perdagangan Yaman kini menghadapi tekanan ekonomi baru setelah perusahaan pelayaran internasional mulai memberlakukan tambahan biaya risiko perang (war risk surcharges) yang signifikan.
Kebijakan ini memicu kekhawatiran mendalam akan terjadinya lonjakan harga kebutuhan pokok di negara yang tengah berjuang memulihkan diri dari krisis kemanusiaan.
Laporan dari para pelaku usaha lokal menyebutkan bahwa biaya tambahan mencapai $3.000 (sekitar Rp47 juta) untuk setiap kontainer yang menuju pelabuhan-pelabuhan di Yaman.
Kenaikan ini dinilai tidak lazim mengingat sebelumnya biaya risiko serupa hanya berkisar antara $500 hingga $1.000.
Dampak Ketegangan Regional
Meskipun aktivitas militer di dalam negeri Yaman telah menurun pasca-gencatan senjata tahun 2022, posisi geografis Yaman menjadikannya rentan terhadap dinamika konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Para pakar maritim menilai bahwa perusahaan asuransi kini mengategorikan wilayah tersebut sebagai zona risiko tinggi, yang berdampak langsung pada biaya logistik global.
Abdulrab al-Khulaqui, Wakil Ketua Korporasi Pelabuhan Teluk Aden Yaman, menyatakan bahwa pengenaan tarif baru ini sangat membebani.
Menurutnya, meski pelabuhan di Yaman berada cukup jauh dari pusat ketegangan di Iran, perusahaan pelayaran tetap memandang rute tersebut tidak aman.
"Angka $3.000 tersebut sangat tinggi dan tidak biasa," ujar al-Khulaqui sebagaimana dikutip dari laporan Al Jazeera.
Ancaman Krisis Kemanusiaan
Pemerintah Yaman saat ini tengah berupaya melakukan negosiasi dengan perusahaan pelayaran untuk meninjau kembali kebijakan tersebut.
Jika tekanan biaya ini terus berlanjut, masyarakat sipil dipastikan menjadi pihak yang paling terdampak.
Data dari Program Pangan Dunia (WFP) menunjukkan potret buram ketahanan pangan di Yaman pada awal 2026.
Sekitar 63 persen rumah tangga di seluruh negeri dilaporkan kesulitan memenuhi kebutuhan pangan minimum mereka.
Salah satu warga, Abdullah al-Hadad, seorang guru di Taiz, mengungkapkan betapa beratnya beban hidup saat ini.
Dengan gaji bulanan kurang dari $80, ia harus bekerja sampingan sebagai pengemudi taksi untuk sekadar membeli roti dan teh.
"Makanan bergizi seperti daging atau ikan kini hanyalah mimpi yang jauh bagi kami," tutur al-Hadad.
Pencarian Jalur Alternatif
Ketidakpastian di Selat Hormuz juga memaksa para importir untuk memikirkan skema logistik alternatif.
Mustafa Nasr, Kepala Pusat Media Studi dan Ekonomi, memperingatkan bahwa penutupan jalur distribusi utama di kawasan Teluk dapat memaksa kapal mencari pelabuhan transit yang lebih jauh, seperti Salalah di Oman atau Jeddah di Arab Saudi.
Langkah ini diprediksi akan memperpanjang waktu pengiriman dan kembali mengerek harga jual barang di pasar domestik Yaman.
Hingga saat ini, pemerintah terus memantau situasi dan mempertimbangkan tindakan tegas guna memastikan pasokan logistik tetap berjalan tanpa beban biaya yang eksorbitan.(*)

